Halaman Teks yang Ditinggalkan Dalam Perayaan Pengalaman

Cover depan Kepada ApakahUlasan Buku ‘Kepada Apakah’ Karya Afrizal Malna

Judul                  : Kepada Apakah
Penulis               : Afrizal Malna
Penerbit              : Motion Publishing
Tangggal Terbi    : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman: viii + 302 halaman, BW
Jenis Cover        : Soft Cover
Dimensi (P x L)   : 130 X 205 mm
Kategori              : Sastra/novel

Oleh Riyadhus Shalihin

Pembacaan terhadap Novel ‘Kepada Apakah’ karya Afrizal Malna menjadi sesuatu yang keras jika pembaca berusaha mencari jahitan cerita yang berkesinambungan di dalamnya. Karena dalam novel ‘Kepada Apakah’ cerita dihidupkan tanpa memiliki misi untuk menuntun pembaca kedalam rumah penceritaan. Menelusuri titik-titik plot dalam novel ini sama nihilnya dengan usaha kita untuk meneguhkan peran-peran yang hadir di dalamnya, peran yang tidak bisa dipegang dengan teguh, peran yang cair dan susah dikejar, serta latar narasi yang selalu bertiup dari satu pijakan fiksi ke pijakan faktual yang berbeda. Mengendurkan setiap niat untuk berkeringat mencari jalan keluar bercerita, melemparkan kita untuk terduduk dan berlari di saat yang sama.

Novel ini tidak memiliki usaha untuk mengantar pembaca menuju kepuasan pesta dongeng- mendongeng. Cerita terus datang dengan kesenangannya masing-masing, terus masuk melampaui harapan kita akan benang merah premis yang tidak kunjung datang. Tidak ada beban moral yang ingin diketuk pengarang kepada pembaca, tidak ada keagungan yang membeban di dalam setiap teks yang dilontarkan, semua berjalan dengan tipis, mengiris dengan dalam kelupaan kita akan kesederhanaan-kesederhanaan di sekitar kita. Masuk tanpa permisi, tanpa membawa beban-beban ideologi, meninggalkan kepada kita jejak yang serba remeh-temeh, hal-hal kecil yang kita lupakan di dalam tubuh kita dilontarkan kembali, dihidupkan dan diberi lengkingan tekstual.

Novel bukan lagi sebagai sebuah proses merentangkan jarak cerita dalam sebuah dramaturgi plot. Novel menjadi sebuah ketekunan mengalami dan membiarkan hal-hal yang sederhana larut menceritakan kembali diri kita

Penerjemahan pikiran yang gagap menemui tubuh kita

Melenguh dan merasuk dalam setiap kesempatan pembahasaan yang dilakukan olehnya, Afrizal meninggalkan kepada kita sebuah jalan untuk kembali berpulang pada tubuh kita. Pada baju kita, celana kita, sepatu kita, kaos kaki kita dan seluruh benda-benda yang sangat dengan kita, namun dengan jahat kita sering menghapus mereka dalam bayangan fiksi tentang sebuah dunia teks, sebuah dunia yang mesti prinsipil, mesti ideologis dan memiliki visi tertentu. Sebuah dunia dalam bayang-bayang tujuan yang pasti.

Dimulai dari Ram seorang mahasiswa filsafat yang merasa dirinya gagap menerjemahkan dirinya kembali. Ketika suatu saat pengajar di mana dia belajar, menanyakan sebuah pertanyaan ; ‘Apakah yang kamu ketahui tentang apakah ?’. sebuah pertanyaan yang menjerumuskan Ram. Membenamkan Ram dalam sebuah teks yang buntu, teks yang menuntunnya pergi melangkah, meniti selangkah demi selangkah, mengalami kembali tubuhnya, mengalami kembali dirinya, mengalami hal-hal yang sempat tertunda untuk dialami. Ketika filsafat hanya mengeksekusi dunia ‘di sana’, mengecilkan peluang bagi diri kita hadir di waktu kini, saat ini.

Melalui jejak teks yang bisu tersebut Ram mulai hinggap dari satu perjalanan menuju perjalanan berikutnya. Menggoda kembali tubuhnya yang sempat gagap menerima kehadiran benda-benda di sekitar dirinya, merayakan kembali aku-massa, aku yang ditandai oleh benda-benda yang ikut menjadi aku. Ram mulai menjalani keriangan pertemuan demi pertemuan, perjalanan demi perjalanan. Perjalanan yang terus dilalui olehnya di dalam lorong-lorong pertanyaan, ketika apakah yang kamu ketahui tentang apakah hadir dan terus berdenyut dalam nadi perjalanan Ram. Apa yang kita ketahui tentang kematian hanyalah dramaturgi tentang kapan dan mengapa kita harus mati, mengapa kita harus menulis dan meninggalkan jejak melalui tulisan kita.

Padang Literary Biennale 2014

plb2Jumat, 19 September 2014, Katabergerak menuju Padang. Perjalanan selama kurang dari dua jam, menempuh langit Sumatera yang dicemari asap tipis kebakaran hutan, sengaja kami rencanakan. Padang Literary Biennale adalah acara sastra dua tahunan, tahun ini adalah tahun kedua. Digagas oleh Esha Tegar, penyair muda Sumbar, dibantu oleh komunitas Kandang Padati dan sekelompok mahasiswa Sumbar. Mereka bekerja swadaya, tanpa bantuan pemerintah daerah. Semangat mereka untuk bekerja, walaupun dengan berbagai keterbatasan, telah menulari beberapa penulis dari luar Sumatera untuk ikut memeriahkan acara. Datang dengan sukarela untuk mengisi beberapa sesi diskusi: Ayu Utami, Okky Madasari, M. Aan Mansyur, Ni Made Punamasari, Ollin Monteiro, Nirwan Dewanto, dan beberapa penggiat sastra lainnya mengisi acara malam pertunjukan.

Pada sesi diskusi bertema Puisi dan Perempuan, Olin Monteiro—aktivis perempuan, pemilik penerbit mandiri– memaparkan secara singkat perkembangan sastra, utamanya peran penulis perempuan. Olin memaparkan peran R.A. Kartini, Toety Heraty, dan lain-lain. Menurutnya, penting memberi kekhususan bagi para penyair perempuan karena mereka relatif tidak mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan karyanya dibandingkan penyair laki-laki. Pada sesi diskusi ini, juga turut bicara seorang penyair muda dari Bali, Ni Made Purnamasari. Buku kumpulan puisinya berjudul Bali Borneo meraih penghargaan Buku Pilihan Anugerah Hari Puisi yang diadakan Yayasan Sagang dan Indopost. Purnama juga penggiat komunitas Sahaja. Pada diskusi ini, Purnama berbagi pengalamannya menghidupkan komunitas sastra dan memaparkan perkembangan sastra di Bali. Menurutnya, gairah berkesenian akan hidup jika didukung tiga hal: studi, kreasi, dan disiplin berorganisasi. Peran senior, salah satunya Umbu Landu Paranggi, dalam menghidupkan kegairahan sastra generasi muda sangat besar. Beliau kerap berbagi ilmu dan menantang para juniornya untuk berkarya. Komunitas menjadi  wadah untuk berkumpul dan berbagi karya. Jika ada anggota yang tidak terlalu aktif berkarya, merekalah yang punya peran untuk menjalankan organisasi dengan aktif mengadakan acara-acara kesenian.

Pada sesi Perempuan dan Puisi ini, Purnama menunjukan dokumentasi dari karya foto seorang dokter asal Jerman, Gregor Krause. Foto-foto yang menunjukkan citra perempuan Bali pada masa lalu yang berpengaruh besar pada  pariwisata Bali kemudian hari. Dengan menunjukkan foto-foto tersebut, Purnama mengingatkan pentingnya dokumentasi. Mungkin tidak penting untuk saat ini, tapi bisa jadi berpengaruh dan menjadi rujukan generasi di masa yang akan datang.

Beberapa sesi diskusi dengan tema berbeda digelar panitia PLB 2014. Tempat diskusi selalu penuh dan tidak sepi dari berbagai pertanyaan audien.  Diskusi mengenai proses kreatif diisi oleh M. Aan Mansyur, penyair, dan Maya Lestari GF, penulis Sumbar. Pada awal kepenulisannya, Maya aktif menulis puisi dan cerpen, namun belakangan Maya lebih produktif menulis novel. Novel terbaru yang sudah terbit Kupu-Kupu Fort de Kock adalah novel silat. Diilhami dari kesukaannya membaca cerita dan komik silat waktu kecil, Maya berpikir inilah saatnya seorang penulis perempuan menuliskan cerita silat. Maya, ibu dari tiga anak yang mengasuh sendiri putri-putrinya, merasa kesibukan sebagai ibu rumah tangga bukan alasan untuk berhenti berkarya. Baginya, itu hanya masalah manajemen waktu. Menulis dianggapnya sebagai bentuk istirahatnya dari kegiatan lain, dan memprioritaskan untuk selalu menyisihkan waktu menulis di waktu malam ketika anak-anaknya tidur.

Berbeda dengan kebanyakan orang lain yang mengaku menulis adalah hal yang menyenangkan, Aan Mansyur menganggap menulis adalah sesuatu yang menyakitkan. Namun, hal lain yang menyenangkan baginya adalah ketika sebuah tulisan rampung. Maka, untuk terbebas dari hal yang tidak menyenangkan dan merasa bahagia, tidak ada jalan lain selain menyelesaikan sebuah tulisan. Puisi-puisi Aan tidak mengandung kata-kata yang rumit, berkalimat sederhana. Itu karena pembaca pertama setiap puisinya adalah ibunya. Maka, Aan selalu berusaha membuat kata-kata yang sederhana untuk dimengerti seorang perempuan yang tidak berpendidikan tinggi. Puisi-puisi Aan dipengaruhi oleh cara orang Bugis melihat ruang dan waktu. Puisinya adalah rumah bereksterior sederhana, dengan ruang-ruang di dalamnya. Aan selalu berusaha membuat puisi dengan lapisan-lapisan, puisi-puisi cinta dengan sisipan kritik sosial atau sebaliknya.

Sesi diskusi terakhir PLB diisi oleh Nirwan Dewanto. Menariknya, Nirwan memaparkan telaah sastra melalui makalah berjudul Geologi. Sebagai seorang sarjana lulusan ITB di bidang Geologi, Nirwan ingin menunjukkan bahwa sastra bisa dilihat dari cara pandang ilmu lain. Menurutnya, “kekayaan warna lokal” itu hanya seperti rembasan minyak bumi, sementara cadangan kreativitasnya—cadangan minyak bumi metaforisnya—ternyata berada di bawah permukaan yang sama sekali tak mengandung rembasan itu….Demikianlah, “warisan Jawa”, “warisan Minang”, atau warisan apa saja, akan menemukan cadangan imajinasi yang melimpah dan terbarukan di luar geografi  yang telanjur dilukis oleh para pendahulu kita. Nirwan ingin mengajak kaum muda untuk terus menggali cadangan kreativitas tersebut.

Padang Literary Biennale yang berlangsung tiga hari hingga 21 September 2014 ditutup oleh pergelaran seni di Ladang Tari Nan Jombang, sebuah padepokan seni milik penari Minang yang sudah go international, Ery Mefri. Pembacaan puisi; teater yang dipadu seni silat dan iringan khas musik Minang; musikalisasi puisi; ditampilkan oleh beberapa komunitas dan seniman Sumatera Barat hingga menjelang tengah malam.

Padang Literary Biennale, sebuah upaya kaum muda pecinta sastra untuk mengingatkan kembali publik Indonesia bahwa di ranah Minang adalah tempat kelahiran banyak seniman berpengaruh di masa lalu juga banyak seniman-seniman muda yang semangat berkarya. Sebuah upaya untuk menghapus “kabut asap” yang dikepulkan kaum birokrat Sumatera Barat saat ini dan menciptakan cakrawala seni yang indah di ranah Minang.

Joko Pinurbo Luncurkan Dua Buku Puisi

Jurnas.com  Minggu, 31 Agustus 2014 , 16:36:00 WIB
 

jokFoto: aprillia ramadhina

 
 
 

Hujan yang mengguyur Jakarta membuat suasana semakin syahdu dengan perayaan puisi. Joko Pinurbo, Jumat malam (29/8) meluncurkan dua buku puisinya yang diterbitkan oleh Kata Bergerak di Warkop Junko, Kemang, Jakarta Selatan. Bulu Matamu: Padang Ilalang merupakan buku puisi yang berisi karya-karya Jokpin – begitu ia biasa disapa, yang sebagian besarnya merupakan sajak yang berasal dari tahun-tahun pertama kepenyairannya yang belum pernah diterbitkan, sajak-sajak sebelum Celana, buku puisinya yang terbit tahun 1999.

Sedangkan Surat Kopi, berisi sajak-sajak baru, sajak yang memperlihatkan perkembangan, dinamika selama perjalanan kepenyairannya yang lebih dari 25 tahun. Pengunjung yang datang malam itu juga para penyair yang hadir turut membacakan puisi, seperti Agus Noor, Khrisna Pabichara, dan penyair muda seperti Adimas Immanuel dan Andi Gunawan.

“Di buku Bulu Matamu: Padang Ilalang, ada sajak yang saya tulis waktu saya masih berumur 18 tahun. Melalui diluncurkannya dua buku ini  saya ingin pembaca punya perbandingan dalam membaca karya-karya saya yang dulu dan yang sekarang.” ujar Joko. “Kalau yang Surat Kopi, ada puisi-puisi yang saya kembangkan lewat tweet-tweet saya, dan saya daur ulang.”

Sebelum mengeluarkan buku puisi Celana, ia mengaku sulit menemukan gayanya sendiri dalam menulis puisi. Menemukan gaya kepenulisan bukan proses yang singkat. Meski kegagalan sering terasa, seperti misalnya merasa melahirkan puisi ‘jelek’, di situ penyair perlu melakukan lompatan menurutnya.

Joko Pinurbo mengatakan pentingnya seorang pengarang untuk memiliki daya tahan mental yang kuat. Seringkali karena gagalnya karya-karya awal, buku pertama yang tidak dianggap, pengarang kemudian merasa jatuh. Dari banyaknya penyair yang seangkatan dengan Joko Pinurbo, berapa yang masih bertahan hingga sekarang? Untuk menebalkan mental, ia banyak belajar dari figur ayahnya, yang dengan hidup keras mampu bertahan. “Kita harus kreatif menciptakan metafor-metafor baru,  karena semua tema sudah ada, sudah pernah digarap orang, yang penting bagaimana kita mengemasnya dengan memberi kekhasan, agar pembaca tidak bosan.”

Meski puisinya terdengar lucu, ia mengaku tidak punya bakat melucu. Kelucuan yang hadir, merupakan hasil dari bermain dengan logika, ada pembelokan di akhir puisi yang tidak diduga pembaca. Senang menulis puisi sejak SMA, ia mengaku dirinya banyak menyenangi cerita-cerita sufi, yang jenaka dan penuh humor.

“Seperti “Burung Berkicau yang ditulis Anton De Mello, itu sangat menginspirasi. Saya tidak bisa bersajak sosial seperti Rendra, karena saya lebih bermain pada spiritualitas sehari-hari, mengungkapkannya dengan simbol apapun.” Mengandalakan memori, berkarya dalam pikiran, membuat dirinya tidak merasa bergantung dengan keadaan. “Di keramaian, maupun di kesunyian saya tetap bisa menulis, karena puisi itu ada di kepala.”

Situasi zaman yang terus berubah, melalui kemudahan-kemudahan yang dinikmati, tentunya diharapkan dapat dimanfaatkan para penulis-penulis muda untuk bisa memperkaya kosa kata  dan menjadi antitesis terhadap zamannya. “Jadi penyair harus rendah hati, buatlah karya yang bisa merengkuh pembaca, menyentuh pengalaman sehari-hari mereka, tanpa mengorbankan konten dan kualitas. Itu tantangan beratnya. Penyair bukan dewa bahasa.”

Roman Semesta dan Segala yang Dituliskannya

Menulis itu berbagi. Berbagi rasa, berbagi sapa, dan berbagi cerita.

 “Roman Semesta” berbicara tentang dunia yang melingkupi kita. Dunia yang khas. Dunia yang menampung ragam kisah dengan semua unsur adalah tokohnya. Ada waktu kita tidak tahu benar peran kita sebagai tokoh yang menyusun kisah-kisah tersebut. Atau barangkali lupa. Ketidaktahuan dan kelupaan inilah yang sering menggoyangkan keseimbangan semesta. Maka terbit perang, penjajahan, penghancuran, pengrusakan, penghianatan, dan segala yang menimbulkan resah.

“Roman Semesta” di sini tidak juga pada posisi ingin memberantas ketidaktahuan dan kelupaan tadi. Sebagaimana takdir sebuah puisi, “Roman Semesta” adalah cermin tempat kita dapat melihat diri sendiri dan segala yang berkelindan di sekitar. Adalah juga kristalisasi dari keinginan penulis untuk berbagi rasa, sapa, dan cerita. Maka di dalamnya banyak unsur yang diberi kesempatan untuk bicara. Ada banyak tokoh di luar semesta diri sendiri yang perlu kita kenal, perlu kita sapa, dan bahkan mungkin perlu kita bersatu dengannya.

Seperti pula takdir sebuah roman, sehimpun puisi ini tentu tak lepas dari eksistensi cinta dan segala yang menyertainya. Semua ditulis dalam kerangka refleksi. Kita mencerminkan semesta, dan semesta mencerminkan kita. Begitulah kira-kira. Kita hanya perlu percaya, puisi akan bekerja dengan caranya sendiri.

Fitrawan

Judul                     : Roman Semesta
ISBN                     : 978-602-70054-1-9
Penulis                 : Fitrawan Umar
Penerbit                : Motion Publishing
Cetakan Pertama : April 2014
Jumlah Halaman  : viii + 84 halaman, BW
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 145 X 210 mm
Kategori                : Sastra/puisi
Harga                   : Rp. 48.000 (bonus CD mini album SeLsA)

Fitrawan Umar kelahiran Pinrang Sulawesi Selatan, 27 Desember 1989. Beberapa karyanya esay, cerpen, dan puisi pernah dimuat di sejumlah media cetak dan antologi: Sepotong Coklat dan Cerita-Cerita yang Lain (2012); Merentang Pelukan (2012); Dunia di Dalam Mata (2013); Wasiat Cinta Penyair Makassar (2013); Trough Darkness To Light (2013); Journal The Indonesian Literary Quarterly (2014).

Terpilih sebagai penulis undangan Ubud Writers and Readers Festival 2013. Sekarang ini aktif mengelola Majalah Sastra Salo Saddang-komunitas penulis Pinrang dan sedang menyusun tesis program pascasarjana ilmu lingkungan Universitas Gajah Mada.

RESENSI:

1. Roman Semesta: Mengungkap Syair, Rasa, dan Semesta Fitrawan Umar oleh Aida Radar

2. Roman Semesta: Sosio Ekologis Dalam Satra oleh M. Nursam (Harian Fajar, 10 Agustus 2014)

Menafsir Ruang Pikir Afrizal Malna Pada Novel “Kepada Apakah”

Penghargaan yang paling penting untuk penulis adalah ketika karyanya dibahas dan dibuat resensi, bukan hadiah uang. Demikian kata Afrizal Malna ketika tim Katabergerak berbincang di helatan Asean Literary Festival  2014 di Taman Ismail Marzuki. Untuk itulah Katabergerak merancang acara diskusi novel Kepada Apakah, novel kedua Afrizal Malna setelah Lubang di Separuh Langit. Acara dilaksanakan pada Minggu, 27 April 2014, bertempat di The Reading Room Books Lounge, Kemang, Jakarta Selatan dengan pembahas utama Tommy F. Awuy (dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia; Institut Kesenian Jakarta; Universitas Atmajaya)

Acara diskusi yang dipandu oleh Sartika Dian–esais dan penyair dari Solo–diramaikan oleh beragam pendapat dan kesan terhadap novel ini.  Turut urun pendapat Richard Oh (pengusaha; pencinta buku), Hanafi (pelukis), Diki Umbara, dan Arnellis (guru bahasa Indonesia). Diawali pemaparan Reni Umbara dari penerbit yang menjelaskan kenapa dan bagaimana novel Kepada Apakah diterbitkan. Meskipun beberapa first reader mempertanyakan untuk apa dan untuk siapa novel ini, namun tidak mengubah keputusan bahwa naskah ini layak terbit. Katabergerak meyakini akan bertemu dengan pembaca yang berhasil menemukan banyak hal menarik pada novel  ini jika pembaca berhasil menikmati dan mengikuti saja ke mana cerita bergulir. Tidak menduga-duga penggalan ceritanya sebagai metafora yang perlu dipahami.

Judul Kepada Apakah mengingatkan kepada dasar dari filsafat: apakah. Filsafat adalah pentas pertanyaan. Jika ditempatkan tanda baca pada judul: elipsis, titik dua, tanda tanya, atau tanda seru; maka maknanya menjadi berlainan. Afrizal mengawali novel ini dengan pertanyaan dari seorang dosen filsafat kepada Ram, tokoh utama, “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”. Pertanyaan yang tidak menghadirkan jawaban. Karena memang filsafat pada dasarnya bukan berfokus pada menemukan jawaban, tapi pertanyaan yang terus menerus lahir. Tommy F. Awuy menyebut novel Kepada Apakah  sebagai novel psikografi, berisi pergulatan psikologis tokoh. Novel serupa adalah novel Anak-Anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko. Mengaku lebih tergetar membaca novel Kepada Apakah dibandingkan saat membaca Dunia Sophie Jostein Gaarder, Tommy membagi novel Kepada Apakah menjadi tiga ruang: ruang ontografi; ruang sensinografi; ruang tidak bernama.

Jika Aristoteles menganut sintaksis, Afrizal Malna justru menganut antisintaksis. Sintaksis memiliki perangkap-perangkap definisi yang membuat mudah terjerembab pada dunia kaku. Sebagai seorang yang antisintaksis, Afrizal berhasil bergulat memainkan nama-nama benda menjadi landscape yang indah.

Ruang kedua: ruang sensinografi. Afrizal bebas berkelit kelindan dalam cerita lewat tokoh Ram. Naskah teater Miss Julie karya August Strinberg dipaparkan dengan sangat menarik di novel ini. Begitu juga relasi seks dengan Wulung, perempuan yang begitu saja bertemu Ram dalam perjalanan.

Ruang ketiga, ruang yang tidak bernama itu adalah saat Ram berpisah dengan Wulung, kekasihnya. Di novel ini ada dua perempuan bernama sama: Wulung. Meskipun bisa saja pembaca menafsirkan Wulung itu sosok beberapa perempuan, lebih dari dua.

Seperti menikmati seni rupa, novel ini bisa dinikmati dari sudut mana saja. Bisa dibaca dari halaman depan, halaman tengah, maupun halaman belakang. Pembaca akan mendapatkan kesan yang sama: hal yang tidak selesai. Karya yang baik adalah karya yang memberikan ruang kepada penikmatnya untuk menafsir. Yang bisa menjadi perdebatan adalah di mana ‘kerampungan’ dan ‘ketidakrampungan’ itu. Menuangkan ‘apa yang terjadi’ bukan ‘apa yang akan dijadikan’. Menjadikan teknik sebagai kendaraan, bukan sebagai tujuan.

ReadingRoom1

Resensi Kepada Apakah lainnya:

  1. Membaca Tiga Tipe Manusia oleh Berto Tukan
  2. Kepada Apakah Afrizal Malna oleh Hernadi Tanzil
  3. Kisah Sial dan Derita di Novel Terbaru Afrizal Malna oleh Anggi Septianto/Alinea TV
  4. Mengejar Pikiran Ram oleh Steve Elu

Kepada Apakah, Sebuah Novel Afrizal Malna

Ram, seorang mahasiswa filsafat yang juga pemain teater, menghadapi pertanyaan dari dosen Filsafat Etika: “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”

Sejak pertanyaan ujian tadi yang menguasai pikiranku, aku ingin memutuskan semua hubungan dengan apa pun. Aku ingin berada di luar semua ikatan yang telah menciptakan banyak kerumitan… Melepaskan ikatan sirkuit yang menyebalkan antara kehidupan dan kematian. Melepaskan ikatan antara kata-benda dengan kata-sifat.

Pertanyaan itu menguasai pikiran Ram sepanjang perjalanan ke beberapa kota di Jawa dan Ternate. Pikiran-pikiran yang seringkali dipengaruhi ilusi dan halusinasi. Membuat perbedaan tipis antara imajinasi dan kenyataan. Antara Ram dan Wulung, kekasihnya.

Novel ini diambil dari kisah nyata. Semacam novel perjalanan tentang pertemuan Afrizal Malna dengan sejumlah orang dari satu tempat ke tempat lain sejak 2012. Secara umum novel ini semacam bunuh diri eksternal dari sisi kebudayaan yang kuat karena adanya media elektronik dan digital.

Judul                     : Kepada Apakah
ISBN                     : 978-602-70054-0-2
Penulis                 : Afrizal Malna
Penerbit                : Motion Publishing
Tangggal Terbit    : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman  : viii + 302 halaman, BW
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 130 X 205 mm
Kategori                : Sastra/novel
Harga                   : Rp. 65.000

Cover depan Kepada ApakahBuku bisa dipesan melalui: SMS 081281977257;e-mail katabergerak@gmail.com; atau twitter, follow dan mention @katabergerak, selanjutnya info melalui dm.

Kata Afrizal Malna Tentang Kritik Sastra

OLYMPUS DIGITAL CAMERAAfrizal Malna adalah seorang penyair, penulis, sutradara pertunjukan seni, dan kurator seni instalasi. Namun beliau sendiri lebih senang menyebut dirinya sebagai penulis dan pejalan yang bekerja dengan banyak disiplin. Berbagai penghargaan pernah diraihnya: Man of The Year dari Majalah Tempo untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2008), penghargaan dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya dan SEA Award dari Bangkok untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2010), Khatulistiwa Literary Award untuk buku puisi Museum Penghancur Dokumen (2013). Afrizal Malna juga terlibat berbagai kegiatan seni di dalam dan luar negeri. Kegiatan terakhir yang diikutinya yaitu Performance Platform Lublin (Juli, 2012); Residensi DAAD di Berlin (Agustus-September 2012); Forum Performance Art Undisclosed Territory (Mojokerto, 2013); Bienal Sastra Salihara (2013). Pada sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013 ke-10 yang bertema Sastra Indonesia Kontemporer, Satu Dasawarsa, Afrizal Malna menjadi juri bersama Katrin Bandel dan Sapardi Djoko Damono. Ada hal menarik yang sayang untuk dilewatkan dari pidatonya pada Malam Anugerah Kritik Sastra DKJ, 17 Januari 2014. Berikut ini adalah kutipannya yang telah disunting seperlunya:

Kritik sastra itu untuk apa? Apakah dia merenovasi pembaca? Apakah dia membongkar pembaca? Apakah dia merajut kembali, menyatukan pembaca? Apakah dia membuat pembaca merasa punya tempat untuk pulang? Saya termasuk di antara mereka yang ragu apakah kritik sastra di Indonesia ada? Menurut saya, kritik sastra itu traumatik oleh sejarahnya. Sejarah kita seperti sebuah genangan yang di dalamnya penuh dengan kaca. Kalau kita masuk, kita terluka. Dan kritik sastra dari 106 yang saya baca itu (jumlah esai yang ikut sayembara kritik), saya harus jujur mengatakan, saya tidak bahagia.

Kalau misalnya kritik sastra itu sebuah pengayaan teks, paling sederhana kita seperti melakukan touring lewat kritik tapi saya merasa lebih seperti membaca karya sastra daripada kritik sastra.Kalau saya memasuki sebuah karya sastra, saya tidak hanya mendapatkan cerita, tapi cerita itu masuk ke dalam tubuh saya, dia membangun semacam kenangan, lalu kenangan itu akan berbicara kembali pada momen-momen tertentu. Menurut saya kritik sastra seharusya memperkuat itu. Saya ambil contoh dua fenomena dari 106 karya itu. Fenomena pertama: kritik sastra lebih banyak membicarakan prosa dan prosa yang dibicarakan lebih banyak novel-novel yang diterbitkan penerbit besar, seperti Gramedia. Jadi, seakan-akan karya sastra Indonesia semata-mata hanya yang terbit dari Gramedia, tidak ada dari penerbit lain. Bahkan juga, pemenang-pemenang novel–pemenang-pemenang prosa yang dibikin oleh lembaga-lembaga tertentu itu–juga banyak yang keluar dari penerbit besar. Pembaca sudah terkooptasi oleh dominasi pasar seperti itu. Dari situ saja kita tidak mendapatkan sesuatu. Seakan-akan seorang kritikus tidak bekerja keras untuk mengkurasi karya yang mereka kritik. Karya yang mereka ambil adalah karya dari penerbit besar yang banyak tersedia di toko-buku. Tidak ada berusaha menyelusup ke mana-mana mencari karya, entah diterbitkan secara online, misalnya. Tidak ada usaha seperti itu. Fenomena kedua: ada semacam latahan bahwa pengarang sudah mati, dan mereka membahas seakan-akan ingin menghancurkan pengarang dengan pernyataan bahwa pengarang sudah mati. Tapi kemudian ujung-ujungnya, di akhir esainya,dia merujuk kembali ke pengarang betul-betul sebagai subjek. Meminta maaf kepada pengarang yang menjadi subjek, mungkin tersinggung dengan pendapat ini. Padahal sebelumnya dia sudah menyebut bahwa pengarang sudah mati.

Mungkin teman-teman sekarang terutama yang muda tidak tahu, ada suasana yang perlu saya sampaikan di sini. Tahun’70-an hingga ’80-an, setiap akhir tahun Dewan Kesenian Jakarta membuat apa yang mereka sebut pesta seni dan dalam pesta itu ada lomba-lomba yang diumumkan. Ada komponis muda, ada film pendek, dan seterusnya. Ketika pengumuman untuk karya sastra, seluruh sastrawan datang. Itu betul-betul sebuah pesta karya. Orang betul-betul menunggu penawaran juri, karena juri selalu memilih karya-karya yang di luar perkiraan pembaca. Artinya, tidak semata-mata karya sastra menciptakan pembaca, tapi lembaga juri juga menciptakan kembali pembaca. Lembaga itu, pada waktu itu sangat terhormat. Juri pasang badan untuk argumentasi. Tapi, para pemenang pasang badan juga. Mereka bisa menolak hadiah, seperti gaya Sartre menolak Nobel. Pada waktu itu, pesta terjadi. Sekarang semuanya seperti sembunyi-sembunyi, penilaian juri juga sembunyi di balik mikrofon.

Saya tidak tahu, mungkin harus ada satu cara bagaimana kritik sastra diperlukan.Saya ingat di pernyataan pengarang sudah mati. Sekarang, apa artinya pernyataan itu? Pengarang sudah mati. Pengarang ditelanjangi sedemikian rupa seakan-akan dia goblok. Apakah kegoblokan pengarang itu adalah kegoblokan seorang aku? Apakah betul seorang aku itu adalah seorang aku yang sendirian? Bukan hasil konstruksi dari sekian banyak hal? Sekarang kita lihat, apa sih aku itu sekarang ini? Kita sudah tidak punya lagi rahasia. Keuangan kita sudah dikontrol–lewat ATM, lewat bank kredit, lewat kontrol keuangan internasional. Rahasia-rahasia dikontrol lewat internet, lewat macam-macam hal seperti itu. Di zaman teknologi global sekarang ini, apa sih aku itu?

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan, bahwa saya tidak berbahagia dengan 106 esai itu dan mungkin Dewan Kesenian Jakarta harus merebut posisinya dulu yang sangat kuat. Dulu dia diserang sedemikian rupa seakan-akan menjadi Jakarta sentris. Tapi sekarang, sastra, teater, seni rupa di Jakarta ketinggalan oleh Jakarta itu sendiri.