Khatulistiwa Award untuk Sastra yang Tidak Bisu

Kamis, 20 November 2014, Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa diumumkan. Ajang penghargaan karya sastra terbaik ini sebelumnya dikenal dengan nama Khatulistiwa Literary Award, namun kemudian diubah pada tahun ke-14. Perubahan ini berkat masukan dari Eko Endarmoko, seorang perumus kamus dan thesaurus bahasa Indonesia.

Pada tahun ini, buku terbitan Motion-Katabergerak terpilih menjadi finalis untuk kategori prosa yaitu novel karya Afrizal Malna, Kepada Apakah; pada kategori puisi, karya Adimas Immanuel, Pelesir Mimpi, masuk nominasi sepuluh besar. Namun, pemenangnya kali ini adalah Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu pada kategori prosa dan Saiban karya Oka Rusmini pada kategori puisi.

Sebagai peraih Anugerah Sastra Khatulistiwa bidang puisi 2013, Afrizal Malna memberi sambutan tertulis yang kutipan sepenuhnya ada di bawah ini:

7_Logo_kusala_sastra_khatulistiwa

Sekarang kita berada dalam satu masa yang 30 tahun lalu belum kita bayangkan. Yaitu munculnya sebuah generasi yang hidup dalam ruang internet dan media digital. Media yang membawa kita ke ruang tidak ada batasnya, dibandingkan dengan bahasa yang dibatasi alfabet dan konvensi para pemakainya. Masa di mana eksistensi bahasa ikut mengalami perubahan, lebih lagi dengan progresivitas globalisasi bahasa Inggris dan budaya pop. Apakah artinya bahasa buat seorang-aku di masa kini? Apakah bahasa masih dianggap memiliki kemampuan menyimpan asal-usul kita, sejarah, dan kenangan kita? Apakah artinya “bahasa ibu” di tengah bahasa yang kini cenderung kian dilihat semata sebagai alat komunikasi?

Puisi dan prosa hampir sama tuanya dengan sejarah tumbuhnya bahasa-bahasa, jauh lebih tua dari agama. Bahasa mendapatkan tubuh dan ruangnya yang baru melalui puisi dan prosa: menjadikan bahasa memiliki kaki untuk berjalan, mendapatkan panorama dan napasnya; memiliki rumah untuk menetap, menikmati berbagai sensasi pada interiornya. Puisi dan prosa membuat bahasa memiliki ruang-dalam dan ruang-luarnya untuk kita bisa keluar dan masuk; seperti hulu dan hilir, membuat bahasa terus mengalir sebagai sungai kenangan, tidak berhenti semata sebagai alat komunikasi.

Sebuah ruang tradisi penghargaan atas puisi dan prosa, sama dengan menjaga ruang hidup kita antara bahasa, sejarah, dan kenangan. Bahasa menjadi berbahaya ketika ia semata-mata diperlakukan sebagai alat kekuasaan, menjadi penjara persepsi. Khatulistiwa Literary Award (KLA) hampir satu-satunya lembaga pemberian hadiah sastra yang bisa menjaga tradisinya hingga kini. Kerja kurasi KLA dari tingkat awal melacak seluruh buku puisi dan prosa yang terbit setiap tahun di Indonesia, melewati beberapa lapis kurasi, sudah merupakan kerja memobilisasi wacana-wacana sastra pada setiap tahun penerbitan. Ini seharusnya bisa melahirkan sebuah laporan, termasuk almanak sastra Indonesia dengan sinopsis-sinopsis singkat di dalamnya. Kerja yang membuat KLA lebih bisa memberikan kontribusi terpentingnya bagi dunia buku sastra Indonesia, mendapatkan jaringannya yang lebih akurat untuk diakses siapa pun. Terutama untuk tetap adanya ruang bagi regenerasi sastra.

Beberapa polemik yang pernah terjadi di sekitar penghargaan dari KLA, saya kira sangat berkaitan dengan tidak adanya laporan kurasi yang memadai. Bagaimana KLA mewacanakannya dari kuantitas buku sastra hingga memilih puncak dari kurasi, sangat penting untuk kehadiran sastra Indonesia sebagai “sastra yang tidak bisu”. KLA saya kira akan lebih memiliki karakter apabila diumumkan sebagai puncak dari festival sastra yang mewakili fenomena baru: para blogger, mereka yang bersastra melalui media digital, hingga puisi slam.

Halaman Teks yang Ditinggalkan Dalam Perayaan Pengalaman

Cover depan Kepada ApakahUlasan Buku ‘Kepada Apakah’ Karya Afrizal Malna

Judul                  : Kepada Apakah
Penulis               : Afrizal Malna
Penerbit              : Motion Publishing
Tangggal Terbi    : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman: viii + 302 halaman, BW
Jenis Cover        : Soft Cover
Dimensi (P x L)   : 130 X 205 mm
Kategori              : Sastra/novel

Oleh Riyadhus Shalihin

Pembacaan terhadap Novel ‘Kepada Apakah’ karya Afrizal Malna menjadi sesuatu yang keras jika pembaca berusaha mencari jahitan cerita yang berkesinambungan di dalamnya. Karena dalam novel ‘Kepada Apakah’ cerita dihidupkan tanpa memiliki misi untuk menuntun pembaca kedalam rumah penceritaan. Menelusuri titik-titik plot dalam novel ini sama nihilnya dengan usaha kita untuk meneguhkan peran-peran yang hadir di dalamnya, peran yang tidak bisa dipegang dengan teguh, peran yang cair dan susah dikejar, serta latar narasi yang selalu bertiup dari satu pijakan fiksi ke pijakan faktual yang berbeda. Mengendurkan setiap niat untuk berkeringat mencari jalan keluar bercerita, melemparkan kita untuk terduduk dan berlari di saat yang sama.

Novel ini tidak memiliki usaha untuk mengantar pembaca menuju kepuasan pesta dongeng- mendongeng. Cerita terus datang dengan kesenangannya masing-masing, terus masuk melampaui harapan kita akan benang merah premis yang tidak kunjung datang. Tidak ada beban moral yang ingin diketuk pengarang kepada pembaca, tidak ada keagungan yang membeban di dalam setiap teks yang dilontarkan, semua berjalan dengan tipis, mengiris dengan dalam kelupaan kita akan kesederhanaan-kesederhanaan di sekitar kita. Masuk tanpa permisi, tanpa membawa beban-beban ideologi, meninggalkan kepada kita jejak yang serba remeh-temeh, hal-hal kecil yang kita lupakan di dalam tubuh kita dilontarkan kembali, dihidupkan dan diberi lengkingan tekstual.

Novel bukan lagi sebagai sebuah proses merentangkan jarak cerita dalam sebuah dramaturgi plot. Novel menjadi sebuah ketekunan mengalami dan membiarkan hal-hal yang sederhana larut menceritakan kembali diri kita

Penerjemahan pikiran yang gagap menemui tubuh kita

Melenguh dan merasuk dalam setiap kesempatan pembahasaan yang dilakukan olehnya, Afrizal meninggalkan kepada kita sebuah jalan untuk kembali berpulang pada tubuh kita. Pada baju kita, celana kita, sepatu kita, kaos kaki kita dan seluruh benda-benda yang sangat dengan kita, namun dengan jahat kita sering menghapus mereka dalam bayangan fiksi tentang sebuah dunia teks, sebuah dunia yang mesti prinsipil, mesti ideologis dan memiliki visi tertentu. Sebuah dunia dalam bayang-bayang tujuan yang pasti.

Dimulai dari Ram seorang mahasiswa filsafat yang merasa dirinya gagap menerjemahkan dirinya kembali. Ketika suatu saat pengajar di mana dia belajar, menanyakan sebuah pertanyaan ; ‘Apakah yang kamu ketahui tentang apakah ?’. sebuah pertanyaan yang menjerumuskan Ram. Membenamkan Ram dalam sebuah teks yang buntu, teks yang menuntunnya pergi melangkah, meniti selangkah demi selangkah, mengalami kembali tubuhnya, mengalami kembali dirinya, mengalami hal-hal yang sempat tertunda untuk dialami. Ketika filsafat hanya mengeksekusi dunia ‘di sana’, mengecilkan peluang bagi diri kita hadir di waktu kini, saat ini.

Melalui jejak teks yang bisu tersebut Ram mulai hinggap dari satu perjalanan menuju perjalanan berikutnya. Menggoda kembali tubuhnya yang sempat gagap menerima kehadiran benda-benda di sekitar dirinya, merayakan kembali aku-massa, aku yang ditandai oleh benda-benda yang ikut menjadi aku. Ram mulai menjalani keriangan pertemuan demi pertemuan, perjalanan demi perjalanan. Perjalanan yang terus dilalui olehnya di dalam lorong-lorong pertanyaan, ketika apakah yang kamu ketahui tentang apakah hadir dan terus berdenyut dalam nadi perjalanan Ram. Apa yang kita ketahui tentang kematian hanyalah dramaturgi tentang kapan dan mengapa kita harus mati, mengapa kita harus menulis dan meninggalkan jejak melalui tulisan kita.

Padang Literary Biennale 2014

plb2Jumat, 19 September 2014, Katabergerak menuju Padang. Perjalanan selama kurang dari dua jam, menempuh langit Sumatera yang dicemari asap tipis kebakaran hutan, sengaja kami rencanakan. Padang Literary Biennale adalah acara sastra dua tahunan, tahun ini adalah tahun kedua. Digagas oleh Esha Tegar, penyair muda Sumbar, dibantu oleh komunitas Kandang Padati dan sekelompok mahasiswa Sumbar. Mereka bekerja swadaya, tanpa bantuan pemerintah daerah. Semangat mereka untuk bekerja, walaupun dengan berbagai keterbatasan, telah menulari beberapa penulis dari luar Sumatera untuk ikut memeriahkan acara. Datang dengan sukarela untuk mengisi beberapa sesi diskusi: Ayu Utami, Okky Madasari, M. Aan Mansyur, Ni Made Punamasari, Ollin Monteiro, Nirwan Dewanto, dan beberapa penggiat sastra lainnya mengisi acara malam pertunjukan.

Pada sesi diskusi bertema Puisi dan Perempuan, Olin Monteiro—aktivis perempuan, pemilik penerbit mandiri– memaparkan secara singkat perkembangan sastra, utamanya peran penulis perempuan. Olin memaparkan peran R.A. Kartini, Toety Heraty, dan lain-lain. Menurutnya, penting memberi kekhususan bagi para penyair perempuan karena mereka relatif tidak mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan karyanya dibandingkan penyair laki-laki. Pada sesi diskusi ini, juga turut bicara seorang penyair muda dari Bali, Ni Made Purnamasari. Buku kumpulan puisinya berjudul Bali Borneo meraih penghargaan Buku Pilihan Anugerah Hari Puisi yang diadakan Yayasan Sagang dan Indopost. Purnama juga penggiat komunitas Sahaja. Pada diskusi ini, Purnama berbagi pengalamannya menghidupkan komunitas sastra dan memaparkan perkembangan sastra di Bali. Menurutnya, gairah berkesenian akan hidup jika didukung tiga hal: studi, kreasi, dan disiplin berorganisasi. Peran senior, salah satunya Umbu Landu Paranggi, dalam menghidupkan kegairahan sastra generasi muda sangat besar. Beliau kerap berbagi ilmu dan menantang para juniornya untuk berkarya. Komunitas menjadi  wadah untuk berkumpul dan berbagi karya. Jika ada anggota yang tidak terlalu aktif berkarya, merekalah yang punya peran untuk menjalankan organisasi dengan aktif mengadakan acara-acara kesenian.

Pada sesi Perempuan dan Puisi ini, Purnama menunjukan dokumentasi dari karya foto seorang dokter asal Jerman, Gregor Krause. Foto-foto yang menunjukkan citra perempuan Bali pada masa lalu yang berpengaruh besar pada  pariwisata Bali kemudian hari. Dengan menunjukkan foto-foto tersebut, Purnama mengingatkan pentingnya dokumentasi. Mungkin tidak penting untuk saat ini, tapi bisa jadi berpengaruh dan menjadi rujukan generasi di masa yang akan datang.

Beberapa sesi diskusi dengan tema berbeda digelar panitia PLB 2014. Tempat diskusi selalu penuh dan tidak sepi dari berbagai pertanyaan audien.  Diskusi mengenai proses kreatif diisi oleh M. Aan Mansyur, penyair, dan Maya Lestari GF, penulis Sumbar. Pada awal kepenulisannya, Maya aktif menulis puisi dan cerpen, namun belakangan Maya lebih produktif menulis novel. Novel terbaru yang sudah terbit Kupu-Kupu Fort de Kock adalah novel silat. Diilhami dari kesukaannya membaca cerita dan komik silat waktu kecil, Maya berpikir inilah saatnya seorang penulis perempuan menuliskan cerita silat. Maya, ibu dari tiga anak yang mengasuh sendiri putri-putrinya, merasa kesibukan sebagai ibu rumah tangga bukan alasan untuk berhenti berkarya. Baginya, itu hanya masalah manajemen waktu. Menulis dianggapnya sebagai bentuk istirahatnya dari kegiatan lain, dan memprioritaskan untuk selalu menyisihkan waktu menulis di waktu malam ketika anak-anaknya tidur.

Berbeda dengan kebanyakan orang lain yang mengaku menulis adalah hal yang menyenangkan, Aan Mansyur menganggap menulis adalah sesuatu yang menyakitkan. Namun, hal lain yang menyenangkan baginya adalah ketika sebuah tulisan rampung. Maka, untuk terbebas dari hal yang tidak menyenangkan dan merasa bahagia, tidak ada jalan lain selain menyelesaikan sebuah tulisan. Puisi-puisi Aan tidak mengandung kata-kata yang rumit, berkalimat sederhana. Itu karena pembaca pertama setiap puisinya adalah ibunya. Maka, Aan selalu berusaha membuat kata-kata yang sederhana untuk dimengerti seorang perempuan yang tidak berpendidikan tinggi. Puisi-puisi Aan dipengaruhi oleh cara orang Bugis melihat ruang dan waktu. Puisinya adalah rumah bereksterior sederhana, dengan ruang-ruang di dalamnya. Aan selalu berusaha membuat puisi dengan lapisan-lapisan, puisi-puisi cinta dengan sisipan kritik sosial atau sebaliknya.

Sesi diskusi terakhir PLB diisi oleh Nirwan Dewanto. Menariknya, Nirwan memaparkan telaah sastra melalui makalah berjudul Geologi. Sebagai seorang sarjana lulusan ITB di bidang Geologi, Nirwan ingin menunjukkan bahwa sastra bisa dilihat dari cara pandang ilmu lain. Menurutnya, “kekayaan warna lokal” itu hanya seperti rembasan minyak bumi, sementara cadangan kreativitasnya—cadangan minyak bumi metaforisnya—ternyata berada di bawah permukaan yang sama sekali tak mengandung rembasan itu….Demikianlah, “warisan Jawa”, “warisan Minang”, atau warisan apa saja, akan menemukan cadangan imajinasi yang melimpah dan terbarukan di luar geografi  yang telanjur dilukis oleh para pendahulu kita. Nirwan ingin mengajak kaum muda untuk terus menggali cadangan kreativitas tersebut.

Padang Literary Biennale yang berlangsung tiga hari hingga 21 September 2014 ditutup oleh pergelaran seni di Ladang Tari Nan Jombang, sebuah padepokan seni milik penari Minang yang sudah go international, Ery Mefri. Pembacaan puisi; teater yang dipadu seni silat dan iringan khas musik Minang; musikalisasi puisi; ditampilkan oleh beberapa komunitas dan seniman Sumatera Barat hingga menjelang tengah malam.

Padang Literary Biennale, sebuah upaya kaum muda pecinta sastra untuk mengingatkan kembali publik Indonesia bahwa di ranah Minang adalah tempat kelahiran banyak seniman berpengaruh di masa lalu juga banyak seniman-seniman muda yang semangat berkarya. Sebuah upaya untuk menghapus “kabut asap” yang dikepulkan kaum birokrat Sumatera Barat saat ini dan menciptakan cakrawala seni yang indah di ranah Minang.

Joko Pinurbo Luncurkan Dua Buku Puisi

Jurnas.com  Minggu, 31 Agustus 2014 , 16:36:00 WIB
 

jokFoto: aprillia ramadhina

 
 
 

Hujan yang mengguyur Jakarta membuat suasana semakin syahdu dengan perayaan puisi. Joko Pinurbo, Jumat malam (29/8) meluncurkan dua buku puisinya yang diterbitkan oleh Kata Bergerak di Warkop Junko, Kemang, Jakarta Selatan. Bulu Matamu: Padang Ilalang merupakan buku puisi yang berisi karya-karya Jokpin – begitu ia biasa disapa, yang sebagian besarnya merupakan sajak yang berasal dari tahun-tahun pertama kepenyairannya yang belum pernah diterbitkan, sajak-sajak sebelum Celana, buku puisinya yang terbit tahun 1999.

Sedangkan Surat Kopi, berisi sajak-sajak baru, sajak yang memperlihatkan perkembangan, dinamika selama perjalanan kepenyairannya yang lebih dari 25 tahun. Pengunjung yang datang malam itu juga para penyair yang hadir turut membacakan puisi, seperti Agus Noor, Khrisna Pabichara, dan penyair muda seperti Adimas Immanuel dan Andi Gunawan.

“Di buku Bulu Matamu: Padang Ilalang, ada sajak yang saya tulis waktu saya masih berumur 18 tahun. Melalui diluncurkannya dua buku ini  saya ingin pembaca punya perbandingan dalam membaca karya-karya saya yang dulu dan yang sekarang.” ujar Joko. “Kalau yang Surat Kopi, ada puisi-puisi yang saya kembangkan lewat tweet-tweet saya, dan saya daur ulang.”

Sebelum mengeluarkan buku puisi Celana, ia mengaku sulit menemukan gayanya sendiri dalam menulis puisi. Menemukan gaya kepenulisan bukan proses yang singkat. Meski kegagalan sering terasa, seperti misalnya merasa melahirkan puisi ‘jelek’, di situ penyair perlu melakukan lompatan menurutnya.

Joko Pinurbo mengatakan pentingnya seorang pengarang untuk memiliki daya tahan mental yang kuat. Seringkali karena gagalnya karya-karya awal, buku pertama yang tidak dianggap, pengarang kemudian merasa jatuh. Dari banyaknya penyair yang seangkatan dengan Joko Pinurbo, berapa yang masih bertahan hingga sekarang? Untuk menebalkan mental, ia banyak belajar dari figur ayahnya, yang dengan hidup keras mampu bertahan. “Kita harus kreatif menciptakan metafor-metafor baru,  karena semua tema sudah ada, sudah pernah digarap orang, yang penting bagaimana kita mengemasnya dengan memberi kekhasan, agar pembaca tidak bosan.”

Meski puisinya terdengar lucu, ia mengaku tidak punya bakat melucu. Kelucuan yang hadir, merupakan hasil dari bermain dengan logika, ada pembelokan di akhir puisi yang tidak diduga pembaca. Senang menulis puisi sejak SMA, ia mengaku dirinya banyak menyenangi cerita-cerita sufi, yang jenaka dan penuh humor.

“Seperti “Burung Berkicau yang ditulis Anton De Mello, itu sangat menginspirasi. Saya tidak bisa bersajak sosial seperti Rendra, karena saya lebih bermain pada spiritualitas sehari-hari, mengungkapkannya dengan simbol apapun.” Mengandalakan memori, berkarya dalam pikiran, membuat dirinya tidak merasa bergantung dengan keadaan. “Di keramaian, maupun di kesunyian saya tetap bisa menulis, karena puisi itu ada di kepala.”

Situasi zaman yang terus berubah, melalui kemudahan-kemudahan yang dinikmati, tentunya diharapkan dapat dimanfaatkan para penulis-penulis muda untuk bisa memperkaya kosa kata  dan menjadi antitesis terhadap zamannya. “Jadi penyair harus rendah hati, buatlah karya yang bisa merengkuh pembaca, menyentuh pengalaman sehari-hari mereka, tanpa mengorbankan konten dan kualitas. Itu tantangan beratnya. Penyair bukan dewa bahasa.”

Roman Semesta dan Segala yang Dituliskannya

Menulis itu berbagi. Berbagi rasa, berbagi sapa, dan berbagi cerita.

 “Roman Semesta” berbicara tentang dunia yang melingkupi kita. Dunia yang khas. Dunia yang menampung ragam kisah dengan semua unsur adalah tokohnya. Ada waktu kita tidak tahu benar peran kita sebagai tokoh yang menyusun kisah-kisah tersebut. Atau barangkali lupa. Ketidaktahuan dan kelupaan inilah yang sering menggoyangkan keseimbangan semesta. Maka terbit perang, penjajahan, penghancuran, pengrusakan, penghianatan, dan segala yang menimbulkan resah.

“Roman Semesta” di sini tidak juga pada posisi ingin memberantas ketidaktahuan dan kelupaan tadi. Sebagaimana takdir sebuah puisi, “Roman Semesta” adalah cermin tempat kita dapat melihat diri sendiri dan segala yang berkelindan di sekitar. Adalah juga kristalisasi dari keinginan penulis untuk berbagi rasa, sapa, dan cerita. Maka di dalamnya banyak unsur yang diberi kesempatan untuk bicara. Ada banyak tokoh di luar semesta diri sendiri yang perlu kita kenal, perlu kita sapa, dan bahkan mungkin perlu kita bersatu dengannya.

Seperti pula takdir sebuah roman, sehimpun puisi ini tentu tak lepas dari eksistensi cinta dan segala yang menyertainya. Semua ditulis dalam kerangka refleksi. Kita mencerminkan semesta, dan semesta mencerminkan kita. Begitulah kira-kira. Kita hanya perlu percaya, puisi akan bekerja dengan caranya sendiri.

Fitrawan

Judul                     : Roman Semesta
ISBN                     : 978-602-70054-1-9
Penulis                 : Fitrawan Umar
Penerbit                : Motion Publishing
Cetakan Pertama : April 2014
Jumlah Halaman  : viii + 84 halaman, BW
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 145 X 210 mm
Kategori                : Sastra/puisi
Harga                   : Rp. 48.000 (bonus CD mini album SeLsA)

Fitrawan Umar kelahiran Pinrang Sulawesi Selatan, 27 Desember 1989. Beberapa karyanya esay, cerpen, dan puisi pernah dimuat di sejumlah media cetak dan antologi: Sepotong Coklat dan Cerita-Cerita yang Lain (2012); Merentang Pelukan (2012); Dunia di Dalam Mata (2013); Wasiat Cinta Penyair Makassar (2013); Trough Darkness To Light (2013); Journal The Indonesian Literary Quarterly (2014).

Terpilih sebagai penulis undangan Ubud Writers and Readers Festival 2013. Sekarang ini aktif mengelola Majalah Sastra Salo Saddang-komunitas penulis Pinrang dan sedang menyusun tesis program pascasarjana ilmu lingkungan Universitas Gajah Mada.

RESENSI:

1. Roman Semesta: Mengungkap Syair, Rasa, dan Semesta Fitrawan Umar oleh Aida Radar

2. Roman Semesta: Sosio Ekologis Dalam Satra oleh M. Nursam (Harian Fajar, 10 Agustus 2014)

Menafsir Ruang Pikir Afrizal Malna Pada Novel “Kepada Apakah”

Penghargaan yang paling penting untuk penulis adalah ketika karyanya dibahas dan dibuat resensi, bukan hadiah uang. Demikian kata Afrizal Malna ketika tim Katabergerak berbincang di helatan Asean Literary Festival  2014 di Taman Ismail Marzuki. Untuk itulah Katabergerak merancang acara diskusi novel Kepada Apakah, novel kedua Afrizal Malna setelah Lubang di Separuh Langit. Acara dilaksanakan pada Minggu, 27 April 2014, bertempat di The Reading Room Books Lounge, Kemang, Jakarta Selatan dengan pembahas utama Tommy F. Awuy (dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia; Institut Kesenian Jakarta; Universitas Atmajaya)

Acara diskusi yang dipandu oleh Sartika Dian–esais dan penyair dari Solo–diramaikan oleh beragam pendapat dan kesan terhadap novel ini.  Turut urun pendapat Richard Oh (pengusaha; pencinta buku), Hanafi (pelukis), Diki Umbara, dan Arnellis (guru bahasa Indonesia). Diawali pemaparan Reni Umbara dari penerbit yang menjelaskan kenapa dan bagaimana novel Kepada Apakah diterbitkan. Meskipun beberapa first reader mempertanyakan untuk apa dan untuk siapa novel ini, namun tidak mengubah keputusan bahwa naskah ini layak terbit. Katabergerak meyakini akan bertemu dengan pembaca yang berhasil menemukan banyak hal menarik pada novel  ini jika pembaca berhasil menikmati dan mengikuti saja ke mana cerita bergulir. Tidak menduga-duga penggalan ceritanya sebagai metafora yang perlu dipahami.

Judul Kepada Apakah mengingatkan kepada dasar dari filsafat: apakah. Filsafat adalah pentas pertanyaan. Jika ditempatkan tanda baca pada judul: elipsis, titik dua, tanda tanya, atau tanda seru; maka maknanya menjadi berlainan. Afrizal mengawali novel ini dengan pertanyaan dari seorang dosen filsafat kepada Ram, tokoh utama, “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”. Pertanyaan yang tidak menghadirkan jawaban. Karena memang filsafat pada dasarnya bukan berfokus pada menemukan jawaban, tapi pertanyaan yang terus menerus lahir. Tommy F. Awuy menyebut novel Kepada Apakah  sebagai novel psikografi, berisi pergulatan psikologis tokoh. Novel serupa adalah novel Anak-Anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko. Mengaku lebih tergetar membaca novel Kepada Apakah dibandingkan saat membaca Dunia Sophie Jostein Gaarder, Tommy membagi novel Kepada Apakah menjadi tiga ruang: ruang ontografi; ruang sensinografi; ruang tidak bernama.

Jika Aristoteles menganut sintaksis, Afrizal Malna justru menganut antisintaksis. Sintaksis memiliki perangkap-perangkap definisi yang membuat mudah terjerembab pada dunia kaku. Sebagai seorang yang antisintaksis, Afrizal berhasil bergulat memainkan nama-nama benda menjadi landscape yang indah.

Ruang kedua: ruang sensinografi. Afrizal bebas berkelit kelindan dalam cerita lewat tokoh Ram. Naskah teater Miss Julie karya August Strinberg dipaparkan dengan sangat menarik di novel ini. Begitu juga relasi seks dengan Wulung, perempuan yang begitu saja bertemu Ram dalam perjalanan.

Ruang ketiga, ruang yang tidak bernama itu adalah saat Ram berpisah dengan Wulung, kekasihnya. Di novel ini ada dua perempuan bernama sama: Wulung. Meskipun bisa saja pembaca menafsirkan Wulung itu sosok beberapa perempuan, lebih dari dua.

Seperti menikmati seni rupa, novel ini bisa dinikmati dari sudut mana saja. Bisa dibaca dari halaman depan, halaman tengah, maupun halaman belakang. Pembaca akan mendapatkan kesan yang sama: hal yang tidak selesai. Karya yang baik adalah karya yang memberikan ruang kepada penikmatnya untuk menafsir. Yang bisa menjadi perdebatan adalah di mana ‘kerampungan’ dan ‘ketidakrampungan’ itu. Menuangkan ‘apa yang terjadi’ bukan ‘apa yang akan dijadikan’. Menjadikan teknik sebagai kendaraan, bukan sebagai tujuan.

ReadingRoom1

Resensi Kepada Apakah lainnya:

  1. Membaca Tiga Tipe Manusia oleh Berto Tukan
  2. Kepada Apakah Afrizal Malna oleh Hernadi Tanzil
  3. Kisah Sial dan Derita di Novel Terbaru Afrizal Malna oleh Anggi Septianto/Alinea TV
  4. Mengejar Pikiran Ram oleh Steve Elu

Kepada Apakah, Sebuah Novel Afrizal Malna

Ram, seorang mahasiswa filsafat yang juga pemain teater, menghadapi pertanyaan dari dosen Filsafat Etika: “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”

Sejak pertanyaan ujian tadi yang menguasai pikiranku, aku ingin memutuskan semua hubungan dengan apa pun. Aku ingin berada di luar semua ikatan yang telah menciptakan banyak kerumitan… Melepaskan ikatan sirkuit yang menyebalkan antara kehidupan dan kematian. Melepaskan ikatan antara kata-benda dengan kata-sifat.

Pertanyaan itu menguasai pikiran Ram sepanjang perjalanan ke beberapa kota di Jawa dan Ternate. Pikiran-pikiran yang seringkali dipengaruhi ilusi dan halusinasi. Membuat perbedaan tipis antara imajinasi dan kenyataan. Antara Ram dan Wulung, kekasihnya.

Novel ini diambil dari kisah nyata. Semacam novel perjalanan tentang pertemuan Afrizal Malna dengan sejumlah orang dari satu tempat ke tempat lain sejak 2012. Secara umum novel ini semacam bunuh diri eksternal dari sisi kebudayaan yang kuat karena adanya media elektronik dan digital.

Judul                     : Kepada Apakah
ISBN                     : 978-602-70054-0-2
Penulis                 : Afrizal Malna
Penerbit                : Motion Publishing
Tangggal Terbit    : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman  : viii + 302 halaman, BW
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 130 X 205 mm
Kategori                : Sastra/novel
Harga                   : Rp. 65.000

Cover depan Kepada ApakahBuku bisa dipesan melalui: SMS 081281977257;e-mail katabergerak@gmail.com; atau twitter, follow dan mention @katabergerak, selanjutnya info melalui dm.