Roman Semesta dan Segala yang Dituliskannya

Menulis itu berbagi. Berbagi rasa, berbagi sapa, dan berbagi cerita.

 “Roman Semesta” berbicara tentang dunia yang melingkupi kita. Dunia yang khas. Dunia yang menampung ragam kisah dengan semua unsur adalah tokohnya. Ada waktu kita tidak tahu benar peran kita sebagai tokoh yang menyusun kisah-kisah tersebut. Atau barangkali lupa. Ketidaktahuan dan kelupaan inilah yang sering menggoyangkan keseimbangan semesta. Maka terbit perang, penjajahan, penghancuran, pengrusakan, penghianatan, dan segala yang menimbulkan resah.

“Roman Semesta” di sini tidak juga pada posisi ingin memberantas ketidaktahuan dan kelupaan tadi. Sebagaimana takdir sebuah puisi, “Roman Semesta” adalah cermin tempat kita dapat melihat diri sendiri dan segala yang berkelindan di sekitar. Adalah juga kristalisasi dari keinginan penulis untuk berbagi rasa, sapa, dan cerita. Maka di dalamnya banyak unsur yang diberi kesempatan untuk bicara. Ada banyak tokoh di luar semesta diri sendiri yang perlu kita kenal, perlu kita sapa, dan bahkan mungkin perlu kita bersatu dengannya.

Seperti pula takdir sebuah roman, sehimpun puisi ini tentu tak lepas dari eksistensi cinta dan segala yang menyertainya. Semua ditulis dalam kerangka refleksi. Kita mencerminkan semesta, dan semesta mencerminkan kita. Begitulah kira-kira. Kita hanya perlu percaya, puisi akan bekerja dengan caranya sendiri.

Fitrawan

Judul                     : Roman Semesta
ISBN                     : 978-602-70054-1-9
Penulis                 : Fitrawan Umar
Penerbit                : Motion Publishing
Cetakan Pertama : April 2014
Jumlah Halaman  : viii + 84 halaman, BW
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 145 X 210 mm
Kategori                : Sastra/puisi
Harga                   : Rp. 48.000 (bonus CD mini album SeLsA)

Fitrawan Umar kelahiran Pinrang Sulawesi Selatan, 27 Desember 1989. Beberapa karyanya esay, cerpen, dan puisi pernah dimuat di sejumlah media cetak dan antologi: Sepotong Coklat dan Cerita-Cerita yang Lain (2012); Merentang Pelukan (2012); Dunia di Dalam Mata (2013); Wasiat Cinta Penyair Makassar (2013); Trough Darkness To Light (2013); Journal The Indonesian Literary Quarterly (2014).

Terpilih sebagai penulis undangan Ubud Writers and Readers Festival 2013. Sekarang ini aktif mengelola Majalah Sastra Salo Saddang-komunitas penulis Pinrang dan sedang menyusun tesis program pascasarjana ilmu lingkungan Universitas Gajah Mada.

[RESENSI] Roman Semesta: Mengungkap Syair, Rasa, dan Semesta Fitrawan Umar

Menafsir Ruang Pikir Afrizal Malna Pada Novel “Kepada Apakah”

Penghargaan yang paling penting untuk penulis adalah ketika karyanya dibahas dan dibuat resensi, bukan hadiah uang. Demikian kata Afrizal Malna ketika tim Katabergerak berbincang di helatan Asean Literary Festival  2014 di Taman Ismail Marzuki. Untuk itulah Katabergerak merancang acara diskusi novel Kepada Apakah, novel kedua Afrizal Malna setelah Lubang di Separuh Langit. Acara dilaksanakan pada Minggu, 27 April 2014, bertempat di The Reading Room Books Lounge, Kemang, Jakarta Selatan dengan pembahas utama Tommy F. Awuy (dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia; Institut Kesenian Jakarta; Universitas Atmajaya)

Acara diskusi yang dipandu oleh Sartika Dian–esais dan penyair dari Solo–diramaikan oleh beragam pendapat dan kesan terhadap novel ini.  Turut urun pendapat Richard Oh (pengusaha; pencinta buku), Hanafi (pelukis), Diki Umbara, dan Arnellis (guru bahasa Indonesia). Diawali pemaparan Reni Umbara dari penerbit yang menjelaskan kenapa dan bagaimana novel Kepada Apakah diterbitkan. Meskipun beberapa first reader mempertanyakan untuk apa dan untuk siapa novel ini, namun tidak mengubah keputusan bahwa naskah ini layak terbit. Katabergerak meyakini akan bertemu dengan pembaca yang berhasil menemukan banyak hal menarik pada novel  ini jika pembaca berhasil menikmati dan mengikuti saja ke mana cerita bergulir. Tidak menduga-duga penggalan ceritanya sebagai metafora yang perlu dipahami.

Judul Kepada Apakah mengingatkan kepada dasar dari filsafat: apakah. Filsafat adalah pentas pertanyaan. Jika ditempatkan tanda baca pada judul: elipsis, titik dua, tanda tanya, atau tanda seru; maka maknanya menjadi berlainan. Afrizal mengawali novel ini dengan pertanyaan dari seorang dosen filsafat kepada Ram, tokoh utama, “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”. Pertanyaan yang tidak menghadirkan jawaban. Karena memang filsafat pada dasarnya bukan berfokus pada menemukan jawaban, tapi pertanyaan yang terus menerus lahir. Tommy F. Awuy menyebut novel Kepada Apakah  sebagai novel psikografi, berisi pergulatan psikologis tokoh. Novel serupa adalah novel Anak-Anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko. Mengaku lebih tergetar membaca novel Kepada Apakah dibandingkan saat membaca Dunia Sophie Jostein Gaarder, Tommy membagi novel Kepada Apakah menjadi tiga ruang: ruang ontografi; ruang sensinografi; ruang tidak bernama.

Jika Aristoteles menganut sintaksis, Afrizal Malna justru menganut antisintaksis. Sintaksis memiliki perangkap-perangkap definisi yang membuat mudah terjerembab pada dunia kaku. Sebagai seorang yang antisintaksis, Afrizal berhasil bergulat memainkan nama-nama benda menjadi landscape yang indah.

Ruang kedua: ruang sensinografi. Afrizal bebas berkelit kelindan dalam cerita lewat tokoh Ram. Naskah teater Miss Julie karya August Strinberg dipaparkan dengan sangat menarik di novel ini. Begitu juga relasi seks dengan Wulung, perempuan yang begitu saja bertemu Ram dalam perjalanan.

Ruang ketiga, ruang yang tidak bernama itu adalah saat Ram berpisah dengan Wulung, kekasihnya. Di novel ini ada dua perempuan bernama sama: Wulung. Meskipun bisa saja pembaca menafsirkan Wulung itu sosok beberapa perempuan, lebih dari dua.

Seperti menikmati seni rupa, novel ini bisa dinikmati dari sudut mana saja. Bisa dibaca dari halaman depan, halaman tengah, maupun halaman belakang. Pembaca akan mendapatkan kesan yang sama: hal yang tidak selesai. Karya yang baik adalah karya yang memberikan ruang kepada penikmatnya untuk menafsir. Yang bisa menjadi perdebatan adalah di mana ‘kerampungan’ dan ‘ketidakrampungan’ itu. Menuangkan ‘apa yang terjadi’ bukan ‘apa yang akan dijadikan’. Menjadikan teknik sebagai kendaraan, bukan sebagai tujuan.

ReadingRoom1

Resensi Kepada Apakah lainnya:

  1. Membaca Tiga Tipe Manusia oleh Berto Tukan
  2. Kepada Apakah Afrizal Malna oleh Hernadi Tanzil
  3. Kisah Sial dan Derita di Novel Terbaru Afrizal Malna oleh Anggi Septianto/Alinea TV
  4. Mengejar Pikiran Ram oleh Steve Elu

Kepada Apakah, Sebuah Novel Afrizal Malna

Ram, seorang mahasiswa filsafat yang juga pemain teater, menghadapi pertanyaan dari dosen Filsafat Etika: “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”

Sejak pertanyaan ujian tadi yang menguasai pikiranku, aku ingin memutuskan semua hubungan dengan apa pun. Aku ingin berada di luar semua ikatan yang telah menciptakan banyak kerumitan… Melepaskan ikatan sirkuit yang menyebalkan antara kehidupan dan kematian. Melepaskan ikatan antara kata-benda dengan kata-sifat.

Pertanyaan itu menguasai pikiran Ram sepanjang perjalanan ke beberapa kota di Jawa dan Ternate. Pikiran-pikiran yang seringkali dipengaruhi ilusi dan halusinasi. Membuat perbedaan tipis antara imajinasi dan kenyataan. Antara Ram dan Wulung, kekasihnya.

Novel ini diambil dari kisah nyata. Semacam novel perjalanan tentang pertemuan Afrizal Malna dengan sejumlah orang dari satu tempat ke tempat lain sejak 2012. Secara umum novel ini semacam bunuh diri eksternal dari sisi kebudayaan yang kuat karena adanya media elektronik dan digital.

Judul                     : Kepada Apakah
ISBN                     : 978-602-70054-0-2
Penulis                 : Afrizal Malna
Penerbit                : Motion Publishing
Tangggal Terbit    : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman  : viii + 302 halaman, BW
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 130 X 205 mm
Kategori                : Sastra/novel
Harga                   : Rp. 65.000

Cover depan Kepada ApakahBuku bisa dipesan melalui: SMS 081281977257;e-mail katabergerak@gmail.com; atau twitter, follow dan mention @katabergerak, selanjutnya info melalui dm.

Kata Afrizal Malna Tentang Kritik Sastra

OLYMPUS DIGITAL CAMERAAfrizal Malna adalah seorang penyair, penulis, sutradara pertunjukan seni, dan kurator seni instalasi. Namun beliau sendiri lebih senang menyebut dirinya sebagai penulis dan pejalan yang bekerja dengan banyak disiplin. Berbagai penghargaan pernah diraihnya: Man of The Year dari Majalah Tempo untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2008), penghargaan dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya dan SEA Award dari Bangkok untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2010), Khatulistiwa Literary Award untuk buku puisi Museum Penghancur Dokumen (2013). Afrizal Malna juga terlibat berbagai kegiatan seni di dalam dan luar negeri. Kegiatan terakhir yang diikutinya yaitu Performance Platform Lublin (Juli, 2012); Residensi DAAD di Berlin (Agustus-September 2012); Forum Performance Art Undisclosed Territory (Mojokerto, 2013); Bienal Sastra Salihara (2013). Pada sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013 ke-10 yang bertema Sastra Indonesia Kontemporer, Satu Dasawarsa, Afrizal Malna menjadi juri bersama Katrin Bandel dan Sapardi Djoko Damono. Ada hal menarik yang sayang untuk dilewatkan dari pidatonya pada Malam Anugerah Kritik Sastra DKJ, 17 Januari 2014. Berikut ini adalah kutipannya yang telah disunting seperlunya:

Kritik sastra itu untuk apa? Apakah dia merenovasi pembaca? Apakah dia membongkar pembaca? Apakah dia merajut kembali, menyatukan pembaca? Apakah dia membuat pembaca merasa punya tempat untuk pulang? Saya termasuk di antara mereka yang ragu apakah kritik sastra di Indonesia ada? Menurut saya, kritik sastra itu traumatik oleh sejarahnya. Sejarah kita seperti sebuah genangan yang di dalamnya penuh dengan kaca. Kalau kita masuk, kita terluka. Dan kritik sastra dari 106 yang saya baca itu (jumlah esai yang ikut sayembara kritik), saya harus jujur mengatakan, saya tidak bahagia.

Kalau misalnya kritik sastra itu sebuah pengayaan teks, paling sederhana kita seperti melakukan touring lewat kritik tapi saya merasa lebih seperti membaca karya sastra daripada kritik sastra.Kalau saya memasuki sebuah karya sastra, saya tidak hanya mendapatkan cerita, tapi cerita itu masuk ke dalam tubuh saya, dia membangun semacam kenangan, lalu kenangan itu akan berbicara kembali pada momen-momen tertentu. Menurut saya kritik sastra seharusya memperkuat itu. Saya ambil contoh dua fenomena dari 106 karya itu. Fenomena pertama: kritik sastra lebih banyak membicarakan prosa dan prosa yang dibicarakan lebih banyak novel-novel yang diterbitkan penerbit besar, seperti Gramedia. Jadi, seakan-akan karya sastra Indonesia semata-mata hanya yang terbit dari Gramedia, tidak ada dari penerbit lain. Bahkan juga, pemenang-pemenang novel–pemenang-pemenang prosa yang dibikin oleh lembaga-lembaga tertentu itu–juga banyak yang keluar dari penerbit besar. Pembaca sudah terkooptasi oleh dominasi pasar seperti itu. Dari situ saja kita tidak mendapatkan sesuatu. Seakan-akan seorang kritikus tidak bekerja keras untuk mengkurasi karya yang mereka kritik. Karya yang mereka ambil adalah karya dari penerbit besar yang banyak tersedia di toko-buku. Tidak ada berusaha menyelusup ke mana-mana mencari karya, entah diterbitkan secara online, misalnya. Tidak ada usaha seperti itu. Fenomena kedua: ada semacam latahan bahwa pengarang sudah mati, dan mereka membahas seakan-akan ingin menghancurkan pengarang dengan pernyataan bahwa pengarang sudah mati. Tapi kemudian ujung-ujungnya, di akhir esainya,dia merujuk kembali ke pengarang betul-betul sebagai subjek. Meminta maaf kepada pengarang yang menjadi subjek, mungkin tersinggung dengan pendapat ini. Padahal sebelumnya dia sudah menyebut bahwa pengarang sudah mati.

Mungkin teman-teman sekarang terutama yang muda tidak tahu, ada suasana yang perlu saya sampaikan di sini. Tahun’70-an hingga ’80-an, setiap akhir tahun Dewan Kesenian Jakarta membuat apa yang mereka sebut pesta seni dan dalam pesta itu ada lomba-lomba yang diumumkan. Ada komponis muda, ada film pendek, dan seterusnya. Ketika pengumuman untuk karya sastra, seluruh sastrawan datang. Itu betul-betul sebuah pesta karya. Orang betul-betul menunggu penawaran juri, karena juri selalu memilih karya-karya yang di luar perkiraan pembaca. Artinya, tidak semata-mata karya sastra menciptakan pembaca, tapi lembaga juri juga menciptakan kembali pembaca. Lembaga itu, pada waktu itu sangat terhormat. Juri pasang badan untuk argumentasi. Tapi, para pemenang pasang badan juga. Mereka bisa menolak hadiah, seperti gaya Sartre menolak Nobel. Pada waktu itu, pesta terjadi. Sekarang semuanya seperti sembunyi-sembunyi, penilaian juri juga sembunyi di balik mikrofon.

Saya tidak tahu, mungkin harus ada satu cara bagaimana kritik sastra diperlukan.Saya ingat di pernyataan pengarang sudah mati. Sekarang, apa artinya pernyataan itu? Pengarang sudah mati. Pengarang ditelanjangi sedemikian rupa seakan-akan dia goblok. Apakah kegoblokan pengarang itu adalah kegoblokan seorang aku? Apakah betul seorang aku itu adalah seorang aku yang sendirian? Bukan hasil konstruksi dari sekian banyak hal? Sekarang kita lihat, apa sih aku itu sekarang ini? Kita sudah tidak punya lagi rahasia. Keuangan kita sudah dikontrol–lewat ATM, lewat bank kredit, lewat kontrol keuangan internasional. Rahasia-rahasia dikontrol lewat internet, lewat macam-macam hal seperti itu. Di zaman teknologi global sekarang ini, apa sih aku itu?

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan, bahwa saya tidak berbahagia dengan 106 esai itu dan mungkin Dewan Kesenian Jakarta harus merebut posisinya dulu yang sangat kuat. Dulu dia diserang sedemikian rupa seakan-akan menjadi Jakarta sentris. Tapi sekarang, sastra, teater, seni rupa di Jakarta ketinggalan oleh Jakarta itu sendiri.

Pelesir Mimpi di Ujung Tahun

Perangai langit bulan Desember, seringkali mendung dan hujan. Begitu pun cuaca pada Rabu malam, 11 Desember 2013 di Yogya. Meskipun demikian, tidak menyurutkan orang-orang datang ke acara “Pelesir Mimpi” di Awor Coffee & Galery, Yap Square, Terban. Lebih istimewa dari acara “Pelesir Mimpi” sebelumnya di Jakarta, Semarang, Solo, dan Surabaya, kali ini perayaan terbitnya buku puisi Adimas Immanuel tidak hanya diisi pembacaan puisi dan musik saja, juga digelar pameran karya foto dan ilustrasi yang terinspirasi dari puisi-puisi Adimas Immanuel.

mimin cantikDipandu MC Adis dan Allan Bona, acara dimulai dengan mengheningkan cipta untuk Sondang Hutagalung, mahasiswa yang meninggal membakar diri di depan Istana Merdeka sebagai bentuk protes atas penguasa pada 7 Desember 2012. Kejadian yang juga diabadikan Adimas dalam puisi berjudul “Nyala Nyali”. Dilanjutkan dengan sambutan oleh rekan Adimas Immanuel yang datang dari Bali, Putu Aditya Nugraha, dan pemotongan pita oleh perwakilan Katabergerak, Reni S. Umbara. Ruangan Awor Coffee & Galery yang semula gelap mulai terang, menampilkan karya tiga fotografer: Agung Prastyo Sangamatir, Ganang Anggara, Ubay Adi Kuntoro dan illustrator Della Yulia Paramita.

suasana pengunjungmimpi

lima puisi dan lukisan dellapemabuk_gng anggara_aworKetiga fotografer menampilkan gaya masing-masing yang berbeda. Agung Prastyo dengan foto-foto candid memotret kaum marjinal sebagai alih wahana puisi Adimas yang berjudul “Becak”, “Surga Si Karmin”, dan “Nasi”. Foto-foto yang artistik cantik dibuat oleh Ganang Anggara untuk puisi “Pelesir Mimpi”, “Angkuh Bulan”, “Pemabuk” dan “Aku Biarkan Kau Menebak Apa Maksudnya”. Sedangkan Ubay Adi Kuntoro merekam gestur model untuk puisi berjudul “Kartini di Mata Pelacur” dan “Bangkai Arloji”

kartiniDi tengah-tengah banyaknya pengunjung yang menikmati karya-karya yang terpajang di dinding Awor Gallery, Adimas dan rekan-rekannya dari Solo: Padmo, Ndik, Adot, dan Raymond memberi kejutan aksi teatrikal.

perform dadakan maafbercanda dkkSeperti pada acara peluncuran buku-buku Katabergerak sebelumnya, selalu ada musikalisasi yang tercipta dari puisi-puisi yang diterbitkan. Duo “Jungkat Jungkit” Adis dan Said menghangatkan suasana dengan beberapa lagu berirama rock blues dan musikalisasi yang mereka ciptakan dari dua puisi Adimas “Jungkat-Jungkit” dan “Kuku”. Bagustian Iskandar juga membawakan musikalisasi puisi “Kinanthi” dan Putu Aditya Nugraha mencipta musikalisasi untuk puisi “Insang”.

bara baca puisi Bagustian jugkat jungkit aditPara pengunjung juga bergantian ikut membaca puisi dari buku Pelesir Mimpi. Di ujung acara ada diskusi tentang proses kreatif buku tersebut.

dimas

[BUKU PUISI] 3,5 Luapan Cinta di Air Tenang

Ini kumpulan syair tentang luapan cinta dan rindu. Rindu menghantarkan seseorang pada ketiadaan; pada pupusnya diri dalam ketenangan menanti di balik kabut. Saat luapan rindu membanjiri kerontang hati, jiwa justru pupus. Karena jika ada rindu, aku tak lagi ada. Yang ada hanya kesatuan bersama-Nya. Di sini letak ketenangan yang justru terjaga oleh luapan rindu. Bukankah hanya kepada-Nya sesungguhnya segala  kerinduan berakhir? Namun kerinduan tak memiliki akhir. Ia adalah rindu-rindu yang terus merindu.

depan

Selain memuat syair-syair karya Peggy Melati Sukma, ada 24 syair balasan dari para pesohor dengan latar profesi beragam. Prolog oleh Ismail Fajrie Alatas dan melampirkan surat dari Remy Sylado. Halaman isi dipercantik ilustrasi dan foto berwarna.

Judul                     : 3,5 Luapan Cinta di Air Tenang
ISBN                     : 978-602-95360-9-6
Penulis                 : Peggy Melati Sukma
Penerbit                : Motion Publishing
Tangggal Terbit    : 1 Desember 2013
Jumlah Halaman  : xx + 320 halaman, BW, color.
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 210 X 148 mm
Kategori                : Sastra/kumpulan puisi
Harga                   : Rp. 85.000
Harga via online   : Rp. 75.000

Buku bisa dipesan melalui: SMS 088801136004;e-mail katabergerak@gmail.com; atau twitter, follow dan mention @katabergerak, selanjutnya info melalui dm.

Pelesir Mimpi, Meriah di Jakarta Menyusul di Solo

“Ini merupakan pengalaman pertama saya membaca puisi,” kata Andee vokalis Antique Band selepas menyanyikan lagu  “Satu Bintang”. Lantas Andee yang juga  7 besar finalis Indonesian Idol angkatan 2008 membacakan  “Jika Cinta Beralih dari Kita”. Lagu serta puisi itu mengawali sebuah peluncuran buku puisi Pelesir Mimpi karya Adimas Imannuel di Tokove Kemang 10 Oktober lalu.

antique puisi

Kemeriahan disusul oleh kolaborasi dari Tika, Anest, dan Tiara. Salah satu lagu dari Frau dilantunkan Tika dengan suara khasnya diiringi gitar oleh Anest, lantas Tiara mendeklamasikan “Penyair di Atas Segala Penyair”. Pembacaan puisi tanpa teks ini mendapat aplause dari tak kurang tujuhpuluhan pengunjung di bawah serta di atas balkon Tokove.

tiara tike

Alih wahana dari puisi ke sebuah lagu atau apa yang disebut sebagai musikalisasi puisi tentu bukan hal mudah apalagi misalnya bagi yang biasa membuat notasi lagu terlebih dulu baru menuliskan lirik. Tapi nampaknya tidak demikian dengan Disa Tannos karena tidak lebih dari seminggu dia bisa melahirkan puisi Tuak menjadi musikalisasi yang manis. Dan di peluncuran puisi ini Disa memainkan gitarnya sendiri.

disa 1

“Dalam menerbitkan buku, Katabergerak tidak pernah serampangan memilih para penulisnya. Kami biasanya memantau karya-karya penulis itu terlebih dulu. Untuk menerbitkan buku puisi dari penulis baru misalnya, ceracau penulis di social media tidak menjadi patokan, akan tetapi paling tidak dari tulisaan-tulisan mereka di blog kita bisa membacanya. Ya, kami memang blog walker. Naskah yang kami terima lantas melalui proses kurasi yang sangat ketat, setelah itu baru proses selanjutnya” demikian penjelasan Diki Umbara ketika ditanya Andi Gunawan yang memandu acara peluncuran buku. “Buku puisi ini saya persembahkan terutama untuk ayah dan ibu saya” tutur Adimas. Ada 11 puisi yang didekasikan Adimas untuk kedua orang tuanya, dan kesebelas puisi itu terdapat di bab pertama buku antolologi tunggal Pelesir Mimpi.

crowd1

ilham aji zia ema anji

Tiga perempuan berturut-turut membacakan puisi yakni Ivonny Maria Dasilva, Rahne Putri, dan Ruth Dian Kurniasari. Suara biola mengalun dari balkon yang dimainkan Adimas lantas Ruth membaca puisi “Pelayaran Baka“. Entah khidmat atau mungkin karena grogi, suara Ruth yang parau dan seperti menahan tangis membuat suasana peluncuran menjadi hening. Selalu ada yang tidak diduga, di hampir penghujung acara Andi meminta pengunjung untuk membaca puisi. Lantas terpilihlah empat orang yang hadir yakni Ilham Aji, Ema Rachmawati, Jia Effendie, dan Erdian Aji. Masing-masing membacakan secara pararel.

ruth2

rahne3

Di ujung acara ada pembacaan puisi oleh Ipank dan acara ditutup oleh pembacaan puisi oleh penulis sendiri Adimas Imanuel. Dengan musik latar langgam Jawa, Adimas mampu menyihir pengunjung ikut berpelesir dalam mimpi. Mimpi yang bukan hanya dimiliki oleh sang penulis.

dimas2

diki dimasbukubukuSelain di Jakarta, Pelesir Mimpi telah menjadi pembahasan di Malam Puisi Semarang juga akan dirayakan di Solo.

foto: Suryo