asin awan


asin awan

aku asin yang jatuh dan hilang dalam hujan, yang membasahi
jalan-jalan, yang kau temukan telah hilang ketika kau pulang
dari pasar malam. seekor ikan, yang bercahaya, adalah isyarat
belaka bahwa laut dan bintang tak pernah jauh dari tubuhmu,
mungkin di matamu—yang sesekali jatuh.

kesedihan yang kau sebut benih itu, rawatlah! sungguh, aku
kelak ingin menemanimu pada pesta panen.

aku dan seluruh doa dalam puisiku tak mengapa menjadi garam
lalu menjadi awan untuk kawin dengan kedua telapak tanganmu
yang tengadah dan bersabar pada janji-janji.

(kadang-kadang aku berharap jarak antara pulau ini dan kau di
pulau sana vertikal—laut menggantung di tengah-tengah. maka
tak mampu aku menghindari untuk tak menyebut hujan dalam
puisiku, hujan yang selalu aku bayangkan jalan-jalan atau kabel
telepon yang menghubungkan kita. dengan begitu, seluruh
perihal atau hal perih di antaranya, dengan mudah aku
mengalimatkan dan mengalamatkan mereka kepadamu. ke
dadamu.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s