di hadapan mata jendela

di hadapan mata jendela

waktu mulai berwarna coklat, malam hendak tiba,
aku duduk berhadap-hadap dengan mata jendela.
aku tak tahu, ternyata aku menyukai malam hari.
ia datang seperti seorang anak kecil pulang sekolah.
aku tak suka membandingkannya dengan anak-anak
karena aku sudah 67 tahun, belum punya engkau,
belum punya istri, anak apalagi cucu-cucu lucu.

malam tiba, jatuh tepatnya, jatuh di atap bumi.
aku tak tahu, aku juga mencintai bumi rupanya.
bisakah seorang bukan petani mencintai bumi?
aku bukan petani, dulu ayah melarangku jadi petani,
lalu aku menulis puisi, aku pikir kertas itu juga bumi.

dari mata jendela kulihat jalan-jalan mengalir
seperti sebuah sungai yang sungguh keruh.
dan tiba-tiba saja aku juga mencintai sungai
meskipun airnya keruh dan engkau tak bisa
mencuci pakaian kotor dan badanmu di sana.
tetapi aku mencintainya, sangat mencintainya,
sebab ia mengalir seperti waktu dan kehidupan.
aku tahu kalimat itu sudah jutaan kali disebutkan
sebelum dan sesudah aku mengatakannya.
tapi sesekali aku ingin menjadi bukan penyair
berkata-kata dengan bahasa umum yang basi.

langitlah rupanya yang menyiramkan warna coklat.
tadi siang aku lihat ia berwarna biru seperti warna
kemeja berbau peluh yang aku kenakan sekarang.
mengapa langit senang mengubah warnanya,
sementara kenangan tak bisa berubah warna?
aku tak pernah tahu, juga mungkin engkau,
tetapi sekarang aku sangat mencintai langit,
tak masalah berwarna coklat atau biru kemeja
sebab lapang langit mengajari pohon-pohon berdoa.
aku juga selalu berdoa seperti pohon, untuk engkau.

aku mencintai pohon saat daunnya jatuh
ke tanah dan bayangannya jadi indah sekali
bisa membentuk macam-macam pohon lain.
aku pernah bercita-cita jadi bayangan
dulu waktu aku berusia tujuh tahun mungkin.
aku ingin menakuti gadis kecil tetanggaku
ia sombong sekali karena ayahnya punya kuda.
gadis itu di mana sekarang, aku tak mau tahu.
suatu hari ia pergi berjalan dan lupa pulang
kuda ayahnya mati beberapa minggu kemudian.

aku juga mencintai jalan, jalan apa saja,
kecuali jalan di depan kantor gubernur,
ada tanda merah dilarang berhenti di sana.
tetapi aku paling mencintai sebuah jalan,
tak penting betul menyebut nama jalan itu,
ia ada di sebuah kota, aku pernah celaka di sana.
aku memboncengkanmu dengan sepeda motor biru.
aku baru saja pintar mengendalikan motor laju
dan terjadilah, tubuhku jatuh menimpa tubuhmu.
aku menyukai kecelakaan itu, saat tak ada seorang
datang menolong, dan kulit lengan kita lama
saling menyentuh, sedikit licin karena darah.

ternyata aku juga mencintai bintang-bintang.
mereka kadang-kadang kubayangkan
sebagai percikan-percikan darah,
meskipun aku selalu gagal memastikan
darah siapa yang memercik dan bercahaya itu.
aku punya pertanyaan lain tentang bintang
banyak sekali, tetapi aku lebih penasaran
pada bulan: benda bulat sebiji yang menggemaskan.

aku ternyata memang mencintai bulan
cahayanya palsu tetapi tetap cantik.
aku punya gambar bulan di dompetku,
aku curi dari sebuah majalah di perpustakaan
aku suka memandanginya kalau hujan turun.
fotomu juga ada di dompetku, lebih dari satu
karena engkau lebih cantik, paling cantik.

hujan, aku juga mencintainya, sungguh
meskipun kadang-kadang aku jengkel.
hujan selalu turun seperti perangkap jala nelayan
dan setiap orang, termasuk engkau, hanyalah ikan.
engkau pernah mengatakan ingin jadi seekor ikan
aku masih ingat, makanya aku beli untukmu akuarium
tetapi engkau ingin punya lautan, bukan akuarium.

sebelumnya aku tak tahu aku juga mencintai laut
saat malam hari dan ada bulan bulat utuh di langit.
aku suka melihat tubuh laut membuka dirinya
membiarkan bayangan bulan menduga dalamnya.
tetapi engkau selalu saja tak mampu aku duga,
apakah engkau telah menjadi laut paling dalam?

yang coklat jadi hitam, termasuk mata jendela.
aku sangat mencintai jendela, seperti matamu.
jam tak kuhitung, dua bungkus rokokku habis,
dan aku masih di depan mata jendela ini.
nanti sebatang rokok akan membunuhku.
sebatang saja, bukan berbungkus-bungkus
sebab matiku setengahnya karena engkau.
aku memikirkan keselamatan dan kebahagiaanmu
meskipun engkau tak mau lagi peduli dengan itu.

jika nanti aku mati, tak masalah hari apa jam berapa,
mungkinkah saat itu aku sedang berada di depan jendela?
sedang memikirkan semua yang kucintai, termasuk engkau.
dan apakah mata jendela akan menatap mataku tanpa bersedih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s