Tentang Agus Noor


Agus Noor, dikenal sebagai penulis prosa. Beberapa buku kumpulan cerita pendeknya antara lain Bapak Presiden yang Terhormat (Pustaka Pelajar, 1990); Memorabilia (Yayasan untuk Indonesia, 1991); Selingkuh Itu Indah (Galang Press, 1994); Rendezvous (Galang Press, 1996); Potongan Cerita di Kartu Pos (Penerbit Kompas, 2002) yang memenangkan Hadiah sastra dari Pusat Bahasa; Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang Pustaka, 2009) yang dianugeri Buku Sastra Terbaik oleh Balai Bahasa Yogyakarta dan masuh shortlist Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan monolognya yang sudah dibukukan adalah Matinya Toekang Kritik (Lamarera, 2005). Cerpen-cerpennya nyaris setiap tahun masuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas, dan tahun 2012 cerpennya Kunang-Kunang di Langit Jakarta terpilih sebagai cerpen Terbaik Kompas.

Disamping itu cerpen-cerpennya juga terhimpun dalam antologi Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia, (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002); Pembisik (Cerpen-cerpen terbaik Republika, 2003), 20 Cerpen Indonesia Terbaik (Pena Kencana, 2008 dan 2009) Un Soir du Paris (Gramedia, 2010).
Menerima penghargaan sebagai penulis cerita pendek terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta 1992. Mendapatkan Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1992 untuk tiga cerpennya: “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru” dan “Tak Ada Mawar di Jalan Raya”. Sedang cerpen “Pemburu” oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen “Piknik” masuk dalam Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen. Cerpenya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Norwegia.

Setelah hampir 20 tahun menjalani proses kreatif, akhirnya buku kumpulan puisinya, Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan ini terbit. Selama ini, ia hanya menyimpan puisi-puisinya. “Sejak awal, saya memang bermasalah dengan puisi,” ujarnya. “Tak banyak yang tahu, pada awal proses kreatif saya, saya menulis puisi. Bahkan beberapa puisi saya, sempat terbit di koran, seperti Bernas, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, dan lainnya. Tapi kemudian saya merasa ada yang tidak nyaman dalam diri saya. Saya seperti tidak menemukan kegembiraan, ketika menulis puisi. Di hadapan puisi, yang tampak agung dan sakral di mata saya, saya seperti tidak mampu rileks. Saya berhadapan dengan puisi dengan penuh ketegangan. Saat itulah, Linus Suryadi AG (Alm), menyarankan saya untuk menulis prosa, sebagai rekreasi berbahasa, mencairkan ketegangan saya. Tapi, kemudian, saya malah keterusan. Ketika saya menulis puisi, akhirnya hanya saya simpan dalam file, dan saya nikmati sendiri. Juga kadang, saya memperlakukannya sebagai upaya mengeksplorasi cara berbahasa saya, yang kemudian saya munculkan dalam prosa saya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s