Mengantar Pelukan

Menulis puisi sama dengan memeluk.

Ada yang lebih luas dari sekadar kata-kata dalam kalimat tersebut. Kalimat yang sering diungkapkan Aan Mansyur dalam berbagai kesempatan tersebut tanpa terduga memantik gagasan lahirnya buku himpunan puisi ini.
Jika menulis puisi sama dengan memeluk dan membacanya sama dengan membalas pelukan, alangkah banyak pelukan yang saling menghangatkan yang tentunya melebihi kemampuan sepasang lengan untuk melakukannya. Namun demikian, buku puisi yang seharusnya menjadi media pertemuan yang menyenangkan dianggap sulit lahir. Beberapa naskah terpaksa tersimpan bertahun-tahun. Bukan karena sedang diendapkan oleh penyairnya tapi karena buku puisi dalam industri penerbitan dianggap penduduk pinggiran kota. Menjadi gerbang masuk dan diharapkan menjadi citra yang baik tapi sering dilupakan bahkan digusur. Untuk itulah, jika menulis puisi sama dengan memeluk, maka kami ingin mengantar pelukan dan mempermudah sepasang pelukan saling bertemu.

Hanya dalam waktu tujuh hari sejak proyek Merentang Pelukan diumumkan lewat jejaring sosial, lebih dari 600 judul puisi terhimpun. Tanpa memperdulikan gender, usia ataupun latar belakang, dari puluhan penulis–yang wajib mengirim minimal 20 judul puisi–terpilih 13 nama yang kami himpun karyanya dalam buku ini. Mereka adalah:
– Andi Gunawan, Depok
– Andi Wirambara, Malang
– Catur Indrawan, Semarang
– Dwi Krisdianto, Sidoarjo
– Faisal Oddang,  Wajo
– Fitrawan Umar, Makassar
– Mey DM, Malang
– Muhammad Dirgantara, Pinrang
– Pringadi Abdi Surya, Sumbawa Besar
– Pujanggi, Bandung
– Rafael Yanuar, Cirebon
– Rangga Rivelino, Bekasi
– Toffan Ariefiadi, Tegal

Belakangan kami ketahui, beberapa di antaranya penulis yang telah terlibat dalam beberapa buku antologi puisi namun ada juga yang menjadikan buku ini adalah kesempatan perdana mempublikasikan karya. Kami juga mendapati dua orang di antaranya masih berstatus pelajar. Usia muda yang mungkin menjadikannya rentan tuduhan bahwa karya  mereka belum mengalami masa pengendapan yang cukup . Kepenyairan seseorang tentu tidak bisa dinilai dari beberapa judul puisi saja. Lima hingga tujuh judul puisi tidak cukup mewakili. Tanpa mengesampingkannya—jika menulis puisi sama dengan memeluk, maka yang kami lakukan adalah menyambut rentangan tangan mereka, lalu memberinya rajahan sebagai tanda selamat datang. Kami mengundang mereka memasuki dunia puisi, dunia yang bukan sekadar imaji. Selanjutnya menunggu,siapakah di antara mereka yang bisa bersenang-senang menikmati puisi, menciptakan keunikan dan menjadikan kata-kata bagian dari diri mereka.

image

Mari kita balas rentangan tangan mereka! Merentang Pelukan segera terbit.

Advertisements

2 thoughts on “Mengantar Pelukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s