Malam Puisi di Kedai Lentera

MalamPuisi

Kedai Lentera, 15 Juni 2013

Malam Puisi merupakan acara yang mengundang siapapun para pecinta puisi, atau yang suka menulis puisi, untuk berkumpul menikmati puisi. Pertama kali diadakan di Kopi Kultur Bali pada 27 April 2013. Digagas oleh Putu Nugraha Aditya, Bentara Bumi, Kirana Larasati, dan Ulan Octavia. Acara mendapat respon positif dan selanjutnya dilaksanakan di pelbagai kota lain, Jogjakarta dan kini Jakarta.

Berlokasi di Kedai Lentera, Malam Puisi diselenggarakan pada Sabtu 17 Juni 2013 dipandu oleh Lukman Simbah. Pembacaan puisi pertama oleh Barikatul Hikmah, dilanjut oleh Wulan Martina, Iman Permana, Andi K. Wahab, Ika Fitriana, Andi Fachri, Bhagavad Sambhada, Liana, Ivone, Dhyta Caturani, dan Diki Umbara. Tak hanya pembacaan puisi, Malam Puisi perdana ini juga ada musikalisasi puisi oleh Sasina UI. Menariknya lagi di ujung acara setiap yang hadir diminta untuk menulis puisi berantai secara spontan. Dan inilah kolaborasi puisinya:

Ini malam tak ada lagi rumpang, padahal kita barangkali tak saling kenal
Tak saling kenal nama, namun jiwa? Mungkin dulu kita pernah bersama?
Kenapa rindu kita tidak kembali. Pada dua pasang kata yang bertemu di titik itu
Kita adalah jiwa-jiwa tanpa nama yang bersama karena rasa.

Ya, ada rindu yang mengalun malu-malu. Lalu, semakin menggebu, meminta waktu berhenti pada temu yang tak semu
Tak ada batas dari katamu, kataku. Kita berbicara tanpa tema. Wajah kita adalah suara. Suara kita adalah kata
Malam dan rembulan kini tak pelak merelakan. Dari kenang yang membuat benang rajutan dalam setiap kata menjadi bendera cinta.
Ketika hujan sudah berganti malam dan kita bicara tentang malam yang kelam. Padahal sisa dingin dari hawa hujan msh menyimpan seulas senyuman.

Ketika semua orang gemar bercinta di dalam kamar, di atas ranjang, di pinggir pantai, di tenda kemah, di toilet umum
Kita selalu pikir itu biasa saja. Sebab kita gemar bercinta di balik layar, dengan jari-jari kita sendiri

Malam menelurkan puisi di dalam kepala. Telur itu menetas, lalu kepala mendikte bibir menyeruput kopi, mengisap rokok, dan melafalkan kata. Sang ibu malam berbangga dan menelurkan lagi rembulan di wajahnya
Aku asing di sini. Hanya ada bait-bait yang bertaut syahdu di malam sendu dengan syair yg menggebu, merdu
Duhai kekasih, aku ingin hilang dalam ramai, kekal di candu sepi, menjadi dekat paling erat, erat sekali.
Menjadi sunyi yang paling kau ingini dan kau hujani mimpi.

Mari kita bermimpi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s