Menghargai Puisi

Sedikit catatan dari Hari Puisi Indonesia 2013 dan tanggapan atas Arman Dhani   http://terumbukarya.blogspot.com/2013/07/kemana-penyair-muda.html

Hampir tengah malam ketika panitia malam puncak perayaan Hari Puisi Indonesia mengumumkan para pemenang anugerah puisi. Acara yang diadakan di Graha Bakti Taman Ismail Marzuki ini merupakan rangkaian acara Hari Puisi Indonesia yang berlangsung lima hari berturut-turut, 26-30 Juli 2013. Panitia menyediakan hadiah total 90 juta rupiah untuk sayembara buku kumpulan puisi. Sebagai pemenangnya adalah Acep Zamzam Noor, berhak atas hadiah 50 juta rupiah. Empat penyair lainnya mendapatkan masing-masing 10 juta rupiah, salah seorang di antaranya adalah Hanna Fransisca. Buku puisi mereka dianggap yang terbaik dari lebih 130-an judul buku puisi yang diikutsertakan.

acep

Begitu banyak buku puisi yang  ikut serta dalam sayembara ini, juga peserta lomba baca puisi yang membludak  di acara ini barangkali bisa menyingkirkan anggapan bahwa puisi tidak diminati. Sekian banyak buku puisi tersebut adalah buku yang memenuhi syarat sayembara yaitu terbit tahun 2012-2013 dan memiliki nomor ISBN. Jika buku kumpulan puisi antologi bersama dikutsertakan, juga buku puisi yang terbit indie tanpa ISBN, tentu lebih banyak lagi buku puisi yang terbit dalam setahun. Namun demikian, hanya sedikit buku puisi yang terlihat di rak-rak toko buku berjaringan.

Terbatasnya buku puisi yang terpajang bukan semata-mata salah pengelola toko buku. Bagaimanapun, toko buku dan penerbit adalah industri yang dijalankan tidak dengan cara kerja bakti. Sebagai bentuk usaha, toko buku dan penerbit harus bekerja merespon pasar. Memang idealnya industri buku bekerja untuk mengedukasi masyarakat, tapi kita tidak hidup di negara yang bisa bermanja-manja dengan Pemerintah.  Untuk bertahan, bisnis harus dijalankan dengan komposisi yang tepat antara “nekad”, perhitungan cermat dan keberuntungan.

Penerbit besar mau mencetak  buku puisi penyair terkenal karena mereka telah terbukti rekam jejaknya. Resikonya lebih kecil daripada menerbitkan karya penyair yang namanya tidak dikenal luas. Buku-buku mereka dicetak ulang karena ada target pasar. Mencurigai kembali hadirnya karya penyair  yang sudah tua sebagai kanonisasi masa lalu rasanya terlalu berlebihan.

Lalu bagaimana nasib buku karya penyair lainnya? Di perayaan Hari Puisi Indonesia 2013 terbukti bahwa para penyair masih berkarya. Jika kategori penyair muda adalah mereka yang lahir setelah tahun ’80-an, maka penyair muda jauh lebih banyak dibanding penyair tua. Salah seorang di antaranya M. Aan Mansyur. Memang sedikit  penyair muda yang terpublikasi. Terbatasnya kolom media cetak dan kritik sastra adalah penyebabnya. Sulit meraih atensi kritikus jika bukan kenalan atau tidak mengesankan. Karya penyair muda rentan dituduh dangkal, kurang pengendapan dan tidak berwawasan tanpa ditelaah dan ditunjukan kelemahannya. Tapi jauh lebih buruk lagi ketika para penyair muda tersebut menyodorkan naskah puisi hanya sekadar coba-coba. Atau justru bingung ketika mendapat pujian. Jika demikian yang terjadi bagaimana penerbit bisa diyakinkan untuk memajang buku-buku puisi mereka di rak toko dengan resiko digudangkan jika selama dua minggu tidak ada yang terjual. Menyedihkan bila buku puisi diproduksi hanya mempersingkat usia pohon lalu dilupakan begitu saja.

Penyair muda yang hidup di zaman serba instan dengan kemudahan perangkat digital tetap harus menempuh jalan sebagaimana pendahulunya. Perangkat digital memang ciri era sekarang, tak perlu dipersalahkan. Jika dulu sastra hanya dinikmati keluarga kaum priyayi  dan petinggi, sekarang bisa diakses siapa saja. Jika dulu untuk menjadi penyair harus nunut seniornya, kalau perlu menjiplak gaya hidup, sekarang penyair muda menjadi pengikut di dunia maya. Tapi, bukankah jalan puisi adalah jalan yang sepi dan penuh nyeri? Di bumi yang sudah semakin sempit ini, jalan sepi harus diciptakan. Mungkin mereka yang bekerja di balik kubikel, di tengah kebisingan, justru membutuhkan puisi untuk menyepi dan menikmati nyeri.

Penerbit, toko buku, media cetak dan sosial media hanya sarana. Biar saja sastra koran dilecehkan, sastra digital dianggap sampah. Selama itu sampah yang bisa didaur ulang, tunas-tunas baru penyair akan tumbuh. Penyaring dan penumbuh kebaruan karya perlu diperankan oleh kritikus dan kaum intelektual sastra. Menyangkal dan menghambatnya berarti menghentikan evolusi sastra.

Penyair-penyair yang selama ini jarang diketahui, perlu dipertunjukan karyanya di panggung-panggung terbuka, yang “cair”, tidak eksklusif komunitas tertentu. Karya penyair masa lalu dan masa kini perlu didokumentasikan dan disebarkan. Sastra dengan muatan lokal dan sastra dunia perlu diperkenalkan sejak usia belia. Barangkali mereka tidak memahaminya, tapi anak-anak seringkali punya kemampuan menyerap yang luar biasa. Dengan demikian puisi dihargai, lebih membahagiakan dan lebih berharga dari rupiah yang diperoleh penyair dari buku puisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s