Kata Afrizal Malna Tentang Kritik Sastra

OLYMPUS DIGITAL CAMERAAfrizal Malna adalah seorang penyair, penulis, sutradara pertunjukan seni, dan kurator seni instalasi. Namun beliau sendiri lebih senang menyebut dirinya sebagai penulis dan pejalan yang bekerja dengan banyak disiplin. Berbagai penghargaan pernah diraihnya: Man of The Year dari Majalah Tempo untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2008), penghargaan dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya dan SEA Award dari Bangkok untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2010), Khatulistiwa Literary Award untuk buku puisi Museum Penghancur Dokumen (2013). Afrizal Malna juga terlibat berbagai kegiatan seni di dalam dan luar negeri. Kegiatan terakhir yang diikutinya yaitu Performance Platform Lublin (Juli, 2012); Residensi DAAD di Berlin (Agustus-September 2012); Forum Performance Art Undisclosed Territory (Mojokerto, 2013); Bienal Sastra Salihara (2013). Pada sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013 ke-10 yang bertema Sastra Indonesia Kontemporer, Satu Dasawarsa, Afrizal Malna menjadi juri bersama Katrin Bandel dan Sapardi Djoko Damono. Ada hal menarik yang sayang untuk dilewatkan dari pidatonya pada Malam Anugerah Kritik Sastra DKJ, 17 Januari 2014. Berikut ini adalah kutipannya yang telah disunting seperlunya:

Kritik sastra itu untuk apa? Apakah dia merenovasi pembaca? Apakah dia membongkar pembaca? Apakah dia merajut kembali, menyatukan pembaca? Apakah dia membuat pembaca merasa punya tempat untuk pulang? Saya termasuk di antara mereka yang ragu apakah kritik sastra di Indonesia ada? Menurut saya, kritik sastra itu traumatik oleh sejarahnya. Sejarah kita seperti sebuah genangan yang di dalamnya penuh dengan kaca. Kalau kita masuk, kita terluka. Dan kritik sastra dari 106 yang saya baca itu (jumlah esai yang ikut sayembara kritik), saya harus jujur mengatakan, saya tidak bahagia.

Kalau misalnya kritik sastra itu sebuah pengayaan teks, paling sederhana kita seperti melakukan touring lewat kritik tapi saya merasa lebih seperti membaca karya sastra daripada kritik sastra.Kalau saya memasuki sebuah karya sastra, saya tidak hanya mendapatkan cerita, tapi cerita itu masuk ke dalam tubuh saya, dia membangun semacam kenangan, lalu kenangan itu akan berbicara kembali pada momen-momen tertentu. Menurut saya kritik sastra seharusya memperkuat itu. Saya ambil contoh dua fenomena dari 106 karya itu. Fenomena pertama: kritik sastra lebih banyak membicarakan prosa dan prosa yang dibicarakan lebih banyak novel-novel yang diterbitkan penerbit besar, seperti Gramedia. Jadi, seakan-akan karya sastra Indonesia semata-mata hanya yang terbit dari Gramedia, tidak ada dari penerbit lain. Bahkan juga, pemenang-pemenang novel–pemenang-pemenang prosa yang dibikin oleh lembaga-lembaga tertentu itu–juga banyak yang keluar dari penerbit besar. Pembaca sudah terkooptasi oleh dominasi pasar seperti itu. Dari situ saja kita tidak mendapatkan sesuatu. Seakan-akan seorang kritikus tidak bekerja keras untuk mengkurasi karya yang mereka kritik. Karya yang mereka ambil adalah karya dari penerbit besar yang banyak tersedia di toko-buku. Tidak ada berusaha menyelusup ke mana-mana mencari karya, entah diterbitkan secara online, misalnya. Tidak ada usaha seperti itu. Fenomena kedua: ada semacam latahan bahwa pengarang sudah mati, dan mereka membahas seakan-akan ingin menghancurkan pengarang dengan pernyataan bahwa pengarang sudah mati. Tapi kemudian ujung-ujungnya, di akhir esainya,dia merujuk kembali ke pengarang betul-betul sebagai subjek. Meminta maaf kepada pengarang yang menjadi subjek, mungkin tersinggung dengan pendapat ini. Padahal sebelumnya dia sudah menyebut bahwa pengarang sudah mati.

Mungkin teman-teman sekarang terutama yang muda tidak tahu, ada suasana yang perlu saya sampaikan di sini. Tahun’70-an hingga ’80-an, setiap akhir tahun Dewan Kesenian Jakarta membuat apa yang mereka sebut pesta seni dan dalam pesta itu ada lomba-lomba yang diumumkan. Ada komponis muda, ada film pendek, dan seterusnya. Ketika pengumuman untuk karya sastra, seluruh sastrawan datang. Itu betul-betul sebuah pesta karya. Orang betul-betul menunggu penawaran juri, karena juri selalu memilih karya-karya yang di luar perkiraan pembaca. Artinya, tidak semata-mata karya sastra menciptakan pembaca, tapi lembaga juri juga menciptakan kembali pembaca. Lembaga itu, pada waktu itu sangat terhormat. Juri pasang badan untuk argumentasi. Tapi, para pemenang pasang badan juga. Mereka bisa menolak hadiah, seperti gaya Sartre menolak Nobel. Pada waktu itu, pesta terjadi. Sekarang semuanya seperti sembunyi-sembunyi, penilaian juri juga sembunyi di balik mikrofon.

Saya tidak tahu, mungkin harus ada satu cara bagaimana kritik sastra diperlukan.Saya ingat di pernyataan pengarang sudah mati. Sekarang, apa artinya pernyataan itu? Pengarang sudah mati. Pengarang ditelanjangi sedemikian rupa seakan-akan dia goblok. Apakah kegoblokan pengarang itu adalah kegoblokan seorang aku? Apakah betul seorang aku itu adalah seorang aku yang sendirian? Bukan hasil konstruksi dari sekian banyak hal? Sekarang kita lihat, apa sih aku itu sekarang ini? Kita sudah tidak punya lagi rahasia. Keuangan kita sudah dikontrol–lewat ATM, lewat bank kredit, lewat kontrol keuangan internasional. Rahasia-rahasia dikontrol lewat internet, lewat macam-macam hal seperti itu. Di zaman teknologi global sekarang ini, apa sih aku itu?

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan, bahwa saya tidak berbahagia dengan 106 esai itu dan mungkin Dewan Kesenian Jakarta harus merebut posisinya dulu yang sangat kuat. Dulu dia diserang sedemikian rupa seakan-akan menjadi Jakarta sentris. Tapi sekarang, sastra, teater, seni rupa di Jakarta ketinggalan oleh Jakarta itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s