Joko Pinurbo Luncurkan Dua Buku Puisi

Jurnas.com  Minggu, 31 Agustus 2014 , 16:36:00 WIB
 

jokFoto: aprillia ramadhina

 
 
 

Hujan yang mengguyur Jakarta membuat suasana semakin syahdu dengan perayaan puisi. Joko Pinurbo, Jumat malam (29/8) meluncurkan dua buku puisinya yang diterbitkan oleh Kata Bergerak di Warkop Junko, Kemang, Jakarta Selatan. Bulu Matamu: Padang Ilalang merupakan buku puisi yang berisi karya-karya Jokpin – begitu ia biasa disapa, yang sebagian besarnya merupakan sajak yang berasal dari tahun-tahun pertama kepenyairannya yang belum pernah diterbitkan, sajak-sajak sebelum Celana, buku puisinya yang terbit tahun 1999.

Sedangkan Surat Kopi, berisi sajak-sajak baru, sajak yang memperlihatkan perkembangan, dinamika selama perjalanan kepenyairannya yang lebih dari 25 tahun. Pengunjung yang datang malam itu juga para penyair yang hadir turut membacakan puisi, seperti Agus Noor, Khrisna Pabichara, dan penyair muda seperti Adimas Immanuel dan Andi Gunawan.

“Di buku Bulu Matamu: Padang Ilalang, ada sajak yang saya tulis waktu saya masih berumur 18 tahun. Melalui diluncurkannya dua buku ini  saya ingin pembaca punya perbandingan dalam membaca karya-karya saya yang dulu dan yang sekarang.” ujar Joko. “Kalau yang Surat Kopi, ada puisi-puisi yang saya kembangkan lewat tweet-tweet saya, dan saya daur ulang.”

Sebelum mengeluarkan buku puisi Celana, ia mengaku sulit menemukan gayanya sendiri dalam menulis puisi. Menemukan gaya kepenulisan bukan proses yang singkat. Meski kegagalan sering terasa, seperti misalnya merasa melahirkan puisi ‘jelek’, di situ penyair perlu melakukan lompatan menurutnya.

Joko Pinurbo mengatakan pentingnya seorang pengarang untuk memiliki daya tahan mental yang kuat. Seringkali karena gagalnya karya-karya awal, buku pertama yang tidak dianggap, pengarang kemudian merasa jatuh. Dari banyaknya penyair yang seangkatan dengan Joko Pinurbo, berapa yang masih bertahan hingga sekarang? Untuk menebalkan mental, ia banyak belajar dari figur ayahnya, yang dengan hidup keras mampu bertahan. “Kita harus kreatif menciptakan metafor-metafor baru,  karena semua tema sudah ada, sudah pernah digarap orang, yang penting bagaimana kita mengemasnya dengan memberi kekhasan, agar pembaca tidak bosan.”

Meski puisinya terdengar lucu, ia mengaku tidak punya bakat melucu. Kelucuan yang hadir, merupakan hasil dari bermain dengan logika, ada pembelokan di akhir puisi yang tidak diduga pembaca. Senang menulis puisi sejak SMA, ia mengaku dirinya banyak menyenangi cerita-cerita sufi, yang jenaka dan penuh humor.

“Seperti “Burung Berkicau yang ditulis Anton De Mello, itu sangat menginspirasi. Saya tidak bisa bersajak sosial seperti Rendra, karena saya lebih bermain pada spiritualitas sehari-hari, mengungkapkannya dengan simbol apapun.” Mengandalakan memori, berkarya dalam pikiran, membuat dirinya tidak merasa bergantung dengan keadaan. “Di keramaian, maupun di kesunyian saya tetap bisa menulis, karena puisi itu ada di kepala.”

Situasi zaman yang terus berubah, melalui kemudahan-kemudahan yang dinikmati, tentunya diharapkan dapat dimanfaatkan para penulis-penulis muda untuk bisa memperkaya kosa kata  dan menjadi antitesis terhadap zamannya. “Jadi penyair harus rendah hati, buatlah karya yang bisa merengkuh pembaca, menyentuh pengalaman sehari-hari mereka, tanpa mengorbankan konten dan kualitas. Itu tantangan beratnya. Penyair bukan dewa bahasa.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s