Khatulistiwa Award untuk Sastra yang Tidak Bisu

Kamis, 20 November 2014, Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa diumumkan. Ajang penghargaan karya sastra terbaik ini sebelumnya dikenal dengan nama Khatulistiwa Literary Award, namun kemudian diubah pada tahun ke-14. Perubahan ini berkat masukan dari Eko Endarmoko, seorang perumus kamus dan thesaurus bahasa Indonesia.

Pada tahun ini, buku terbitan Motion-Katabergerak terpilih menjadi finalis untuk kategori prosa yaitu novel karya Afrizal Malna, Kepada Apakah; pada kategori puisi, karya Adimas Immanuel, Pelesir Mimpi, masuk nominasi sepuluh besar. Namun, pemenangnya kali ini adalah Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu pada kategori prosa dan Saiban karya Oka Rusmini pada kategori puisi.

Sebagai peraih Anugerah Sastra Khatulistiwa bidang puisi 2013, Afrizal Malna memberi sambutan tertulis yang kutipan sepenuhnya ada di bawah ini:

7_Logo_kusala_sastra_khatulistiwa

Sekarang kita berada dalam satu masa yang 30 tahun lalu belum kita bayangkan. Yaitu munculnya sebuah generasi yang hidup dalam ruang internet dan media digital. Media yang membawa kita ke ruang tidak ada batasnya, dibandingkan dengan bahasa yang dibatasi alfabet dan konvensi para pemakainya. Masa di mana eksistensi bahasa ikut mengalami perubahan, lebih lagi dengan progresivitas globalisasi bahasa Inggris dan budaya pop. Apakah artinya bahasa buat seorang-aku di masa kini? Apakah bahasa masih dianggap memiliki kemampuan menyimpan asal-usul kita, sejarah, dan kenangan kita? Apakah artinya “bahasa ibu” di tengah bahasa yang kini cenderung kian dilihat semata sebagai alat komunikasi?

Puisi dan prosa hampir sama tuanya dengan sejarah tumbuhnya bahasa-bahasa, jauh lebih tua dari agama. Bahasa mendapatkan tubuh dan ruangnya yang baru melalui puisi dan prosa: menjadikan bahasa memiliki kaki untuk berjalan, mendapatkan panorama dan napasnya; memiliki rumah untuk menetap, menikmati berbagai sensasi pada interiornya. Puisi dan prosa membuat bahasa memiliki ruang-dalam dan ruang-luarnya untuk kita bisa keluar dan masuk; seperti hulu dan hilir, membuat bahasa terus mengalir sebagai sungai kenangan, tidak berhenti semata sebagai alat komunikasi.

Sebuah ruang tradisi penghargaan atas puisi dan prosa, sama dengan menjaga ruang hidup kita antara bahasa, sejarah, dan kenangan. Bahasa menjadi berbahaya ketika ia semata-mata diperlakukan sebagai alat kekuasaan, menjadi penjara persepsi. Khatulistiwa Literary Award (KLA) hampir satu-satunya lembaga pemberian hadiah sastra yang bisa menjaga tradisinya hingga kini. Kerja kurasi KLA dari tingkat awal melacak seluruh buku puisi dan prosa yang terbit setiap tahun di Indonesia, melewati beberapa lapis kurasi, sudah merupakan kerja memobilisasi wacana-wacana sastra pada setiap tahun penerbitan. Ini seharusnya bisa melahirkan sebuah laporan, termasuk almanak sastra Indonesia dengan sinopsis-sinopsis singkat di dalamnya. Kerja yang membuat KLA lebih bisa memberikan kontribusi terpentingnya bagi dunia buku sastra Indonesia, mendapatkan jaringannya yang lebih akurat untuk diakses siapa pun. Terutama untuk tetap adanya ruang bagi regenerasi sastra.

Beberapa polemik yang pernah terjadi di sekitar penghargaan dari KLA, saya kira sangat berkaitan dengan tidak adanya laporan kurasi yang memadai. Bagaimana KLA mewacanakannya dari kuantitas buku sastra hingga memilih puncak dari kurasi, sangat penting untuk kehadiran sastra Indonesia sebagai “sastra yang tidak bisu”. KLA saya kira akan lebih memiliki karakter apabila diumumkan sebagai puncak dari festival sastra yang mewakili fenomena baru: para blogger, mereka yang bersastra melalui media digital, hingga puisi slam.

Advertisements

Menafsir Ruang Pikir Afrizal Malna Pada Novel “Kepada Apakah”

Penghargaan yang paling penting untuk penulis adalah ketika karyanya dibahas dan dibuat resensi, bukan hadiah uang. Demikian kata Afrizal Malna ketika tim Katabergerak berbincang di helatan Asean Literary Festival  2014 di Taman Ismail Marzuki. Untuk itulah Katabergerak merancang acara diskusi novel Kepada Apakah, novel kedua Afrizal Malna setelah Lubang di Separuh Langit. Acara dilaksanakan pada Minggu, 27 April 2014, bertempat di The Reading Room Books Lounge, Kemang, Jakarta Selatan dengan pembahas utama Tommy F. Awuy (dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia; Institut Kesenian Jakarta; Universitas Atmajaya)

Acara diskusi yang dipandu oleh Sartika Dian–esais dan penyair dari Solo–diramaikan oleh beragam pendapat dan kesan terhadap novel ini.  Turut urun pendapat Richard Oh (pengusaha; pencinta buku), Hanafi (pelukis), Diki Umbara, dan Arnellis (guru bahasa Indonesia). Diawali pemaparan Reni Umbara dari penerbit yang menjelaskan kenapa dan bagaimana novel Kepada Apakah diterbitkan. Meskipun beberapa first reader mempertanyakan untuk apa dan untuk siapa novel ini, namun tidak mengubah keputusan bahwa naskah ini layak terbit. Katabergerak meyakini akan bertemu dengan pembaca yang berhasil menemukan banyak hal menarik pada novel  ini jika pembaca berhasil menikmati dan mengikuti saja ke mana cerita bergulir. Tidak menduga-duga penggalan ceritanya sebagai metafora yang perlu dipahami.

Judul Kepada Apakah mengingatkan kepada dasar dari filsafat: apakah. Filsafat adalah pentas pertanyaan. Jika ditempatkan tanda baca pada judul: elipsis, titik dua, tanda tanya, atau tanda seru; maka maknanya menjadi berlainan. Afrizal mengawali novel ini dengan pertanyaan dari seorang dosen filsafat kepada Ram, tokoh utama, “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”. Pertanyaan yang tidak menghadirkan jawaban. Karena memang filsafat pada dasarnya bukan berfokus pada menemukan jawaban, tapi pertanyaan yang terus menerus lahir. Tommy F. Awuy menyebut novel Kepada Apakah  sebagai novel psikografi, berisi pergulatan psikologis tokoh. Novel serupa adalah novel Anak-Anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko. Mengaku lebih tergetar membaca novel Kepada Apakah dibandingkan saat membaca Dunia Sophie Jostein Gaarder, Tommy membagi novel Kepada Apakah menjadi tiga ruang: ruang ontografi; ruang sensinografi; ruang tidak bernama.

Jika Aristoteles menganut sintaksis, Afrizal Malna justru menganut antisintaksis. Sintaksis memiliki perangkap-perangkap definisi yang membuat mudah terjerembab pada dunia kaku. Sebagai seorang yang antisintaksis, Afrizal berhasil bergulat memainkan nama-nama benda menjadi landscape yang indah.

Ruang kedua: ruang sensinografi. Afrizal bebas berkelit kelindan dalam cerita lewat tokoh Ram. Naskah teater Miss Julie karya August Strinberg dipaparkan dengan sangat menarik di novel ini. Begitu juga relasi seks dengan Wulung, perempuan yang begitu saja bertemu Ram dalam perjalanan.

Ruang ketiga, ruang yang tidak bernama itu adalah saat Ram berpisah dengan Wulung, kekasihnya. Di novel ini ada dua perempuan bernama sama: Wulung. Meskipun bisa saja pembaca menafsirkan Wulung itu sosok beberapa perempuan, lebih dari dua.

Seperti menikmati seni rupa, novel ini bisa dinikmati dari sudut mana saja. Bisa dibaca dari halaman depan, halaman tengah, maupun halaman belakang. Pembaca akan mendapatkan kesan yang sama: hal yang tidak selesai. Karya yang baik adalah karya yang memberikan ruang kepada penikmatnya untuk menafsir. Yang bisa menjadi perdebatan adalah di mana ‘kerampungan’ dan ‘ketidakrampungan’ itu. Menuangkan ‘apa yang terjadi’ bukan ‘apa yang akan dijadikan’. Menjadikan teknik sebagai kendaraan, bukan sebagai tujuan.

ReadingRoom1

Resensi Kepada Apakah lainnya:

  1. Membaca Tiga Tipe Manusia oleh Berto Tukan
  2. Kepada Apakah Afrizal Malna oleh Hernadi Tanzil
  3. Kisah Sial dan Derita di Novel Terbaru Afrizal Malna oleh Anggi Septianto/Alinea TV
  4. Mengejar Pikiran Ram oleh Steve Elu

Kepada Apakah, Sebuah Novel Afrizal Malna

Ram, seorang mahasiswa filsafat yang juga pemain teater, menghadapi pertanyaan dari dosen Filsafat Etika: “Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”

Sejak pertanyaan ujian tadi yang menguasai pikiranku, aku ingin memutuskan semua hubungan dengan apa pun. Aku ingin berada di luar semua ikatan yang telah menciptakan banyak kerumitan… Melepaskan ikatan sirkuit yang menyebalkan antara kehidupan dan kematian. Melepaskan ikatan antara kata-benda dengan kata-sifat.

Pertanyaan itu menguasai pikiran Ram sepanjang perjalanan ke beberapa kota di Jawa dan Ternate. Pikiran-pikiran yang seringkali dipengaruhi ilusi dan halusinasi. Membuat perbedaan tipis antara imajinasi dan kenyataan. Antara Ram dan Wulung, kekasihnya.

Novel ini diambil dari kisah nyata. Semacam novel perjalanan tentang pertemuan Afrizal Malna dengan sejumlah orang dari satu tempat ke tempat lain sejak 2012. Secara umum novel ini semacam bunuh diri eksternal dari sisi kebudayaan yang kuat karena adanya media elektronik dan digital.

Judul                     : Kepada Apakah
ISBN                     : 978-602-70054-0-2
Penulis                 : Afrizal Malna
Penerbit                : Motion Publishing
Tangggal Terbit    : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman  : viii + 302 halaman, BW
Jenis Cover          : Soft Cover
Dimensi (P x L)    : 130 X 205 mm
Kategori                : Sastra/novel
Harga                   : Rp. 65.000

Cover depan Kepada ApakahBuku bisa dipesan melalui: SMS 081281977257;e-mail katabergerak@gmail.com; atau twitter, follow dan mention @katabergerak, selanjutnya info melalui dm.

Kata Afrizal Malna Tentang Kritik Sastra

OLYMPUS DIGITAL CAMERAAfrizal Malna adalah seorang penyair, penulis, sutradara pertunjukan seni, dan kurator seni instalasi. Namun beliau sendiri lebih senang menyebut dirinya sebagai penulis dan pejalan yang bekerja dengan banyak disiplin. Berbagai penghargaan pernah diraihnya: Man of The Year dari Majalah Tempo untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2008), penghargaan dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya dan SEA Award dari Bangkok untuk buku puisi Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2010), Khatulistiwa Literary Award untuk buku puisi Museum Penghancur Dokumen (2013). Afrizal Malna juga terlibat berbagai kegiatan seni di dalam dan luar negeri. Kegiatan terakhir yang diikutinya yaitu Performance Platform Lublin (Juli, 2012); Residensi DAAD di Berlin (Agustus-September 2012); Forum Performance Art Undisclosed Territory (Mojokerto, 2013); Bienal Sastra Salihara (2013). Pada sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013 ke-10 yang bertema Sastra Indonesia Kontemporer, Satu Dasawarsa, Afrizal Malna menjadi juri bersama Katrin Bandel dan Sapardi Djoko Damono. Ada hal menarik yang sayang untuk dilewatkan dari pidatonya pada Malam Anugerah Kritik Sastra DKJ, 17 Januari 2014. Berikut ini adalah kutipannya yang telah disunting seperlunya:

Kritik sastra itu untuk apa? Apakah dia merenovasi pembaca? Apakah dia membongkar pembaca? Apakah dia merajut kembali, menyatukan pembaca? Apakah dia membuat pembaca merasa punya tempat untuk pulang? Saya termasuk di antara mereka yang ragu apakah kritik sastra di Indonesia ada? Menurut saya, kritik sastra itu traumatik oleh sejarahnya. Sejarah kita seperti sebuah genangan yang di dalamnya penuh dengan kaca. Kalau kita masuk, kita terluka. Dan kritik sastra dari 106 yang saya baca itu (jumlah esai yang ikut sayembara kritik), saya harus jujur mengatakan, saya tidak bahagia.

Kalau misalnya kritik sastra itu sebuah pengayaan teks, paling sederhana kita seperti melakukan touring lewat kritik tapi saya merasa lebih seperti membaca karya sastra daripada kritik sastra.Kalau saya memasuki sebuah karya sastra, saya tidak hanya mendapatkan cerita, tapi cerita itu masuk ke dalam tubuh saya, dia membangun semacam kenangan, lalu kenangan itu akan berbicara kembali pada momen-momen tertentu. Menurut saya kritik sastra seharusya memperkuat itu. Saya ambil contoh dua fenomena dari 106 karya itu. Fenomena pertama: kritik sastra lebih banyak membicarakan prosa dan prosa yang dibicarakan lebih banyak novel-novel yang diterbitkan penerbit besar, seperti Gramedia. Jadi, seakan-akan karya sastra Indonesia semata-mata hanya yang terbit dari Gramedia, tidak ada dari penerbit lain. Bahkan juga, pemenang-pemenang novel–pemenang-pemenang prosa yang dibikin oleh lembaga-lembaga tertentu itu–juga banyak yang keluar dari penerbit besar. Pembaca sudah terkooptasi oleh dominasi pasar seperti itu. Dari situ saja kita tidak mendapatkan sesuatu. Seakan-akan seorang kritikus tidak bekerja keras untuk mengkurasi karya yang mereka kritik. Karya yang mereka ambil adalah karya dari penerbit besar yang banyak tersedia di toko-buku. Tidak ada berusaha menyelusup ke mana-mana mencari karya, entah diterbitkan secara online, misalnya. Tidak ada usaha seperti itu. Fenomena kedua: ada semacam latahan bahwa pengarang sudah mati, dan mereka membahas seakan-akan ingin menghancurkan pengarang dengan pernyataan bahwa pengarang sudah mati. Tapi kemudian ujung-ujungnya, di akhir esainya,dia merujuk kembali ke pengarang betul-betul sebagai subjek. Meminta maaf kepada pengarang yang menjadi subjek, mungkin tersinggung dengan pendapat ini. Padahal sebelumnya dia sudah menyebut bahwa pengarang sudah mati.

Mungkin teman-teman sekarang terutama yang muda tidak tahu, ada suasana yang perlu saya sampaikan di sini. Tahun’70-an hingga ’80-an, setiap akhir tahun Dewan Kesenian Jakarta membuat apa yang mereka sebut pesta seni dan dalam pesta itu ada lomba-lomba yang diumumkan. Ada komponis muda, ada film pendek, dan seterusnya. Ketika pengumuman untuk karya sastra, seluruh sastrawan datang. Itu betul-betul sebuah pesta karya. Orang betul-betul menunggu penawaran juri, karena juri selalu memilih karya-karya yang di luar perkiraan pembaca. Artinya, tidak semata-mata karya sastra menciptakan pembaca, tapi lembaga juri juga menciptakan kembali pembaca. Lembaga itu, pada waktu itu sangat terhormat. Juri pasang badan untuk argumentasi. Tapi, para pemenang pasang badan juga. Mereka bisa menolak hadiah, seperti gaya Sartre menolak Nobel. Pada waktu itu, pesta terjadi. Sekarang semuanya seperti sembunyi-sembunyi, penilaian juri juga sembunyi di balik mikrofon.

Saya tidak tahu, mungkin harus ada satu cara bagaimana kritik sastra diperlukan.Saya ingat di pernyataan pengarang sudah mati. Sekarang, apa artinya pernyataan itu? Pengarang sudah mati. Pengarang ditelanjangi sedemikian rupa seakan-akan dia goblok. Apakah kegoblokan pengarang itu adalah kegoblokan seorang aku? Apakah betul seorang aku itu adalah seorang aku yang sendirian? Bukan hasil konstruksi dari sekian banyak hal? Sekarang kita lihat, apa sih aku itu sekarang ini? Kita sudah tidak punya lagi rahasia. Keuangan kita sudah dikontrol–lewat ATM, lewat bank kredit, lewat kontrol keuangan internasional. Rahasia-rahasia dikontrol lewat internet, lewat macam-macam hal seperti itu. Di zaman teknologi global sekarang ini, apa sih aku itu?

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan, bahwa saya tidak berbahagia dengan 106 esai itu dan mungkin Dewan Kesenian Jakarta harus merebut posisinya dulu yang sangat kuat. Dulu dia diserang sedemikian rupa seakan-akan menjadi Jakarta sentris. Tapi sekarang, sastra, teater, seni rupa di Jakarta ketinggalan oleh Jakarta itu sendiri.