Padang Literary Biennale 2014

plb2Jumat, 19 September 2014, Katabergerak menuju Padang. Perjalanan selama kurang dari dua jam, menempuh langit Sumatera yang dicemari asap tipis kebakaran hutan, sengaja kami rencanakan. Padang Literary Biennale adalah acara sastra dua tahunan, tahun ini adalah tahun kedua. Digagas oleh Esha Tegar, penyair muda Sumbar, dibantu oleh komunitas Kandang Padati dan sekelompok mahasiswa Sumbar. Mereka bekerja swadaya, tanpa bantuan pemerintah daerah. Semangat mereka untuk bekerja, walaupun dengan berbagai keterbatasan, telah menulari beberapa penulis dari luar Sumatera untuk ikut memeriahkan acara. Datang dengan sukarela untuk mengisi beberapa sesi diskusi: Ayu Utami, Okky Madasari, M. Aan Mansyur, Ni Made Punamasari, Ollin Monteiro, Nirwan Dewanto, dan beberapa penggiat sastra lainnya mengisi acara malam pertunjukan.

Pada sesi diskusi bertema Puisi dan Perempuan, Olin Monteiro—aktivis perempuan, pemilik penerbit mandiri– memaparkan secara singkat perkembangan sastra, utamanya peran penulis perempuan. Olin memaparkan peran R.A. Kartini, Toety Heraty, dan lain-lain. Menurutnya, penting memberi kekhususan bagi para penyair perempuan karena mereka relatif tidak mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan karyanya dibandingkan penyair laki-laki. Pada sesi diskusi ini, juga turut bicara seorang penyair muda dari Bali, Ni Made Purnamasari. Buku kumpulan puisinya berjudul Bali Borneo meraih penghargaan Buku Pilihan Anugerah Hari Puisi yang diadakan Yayasan Sagang dan Indopost. Purnama juga penggiat komunitas Sahaja. Pada diskusi ini, Purnama berbagi pengalamannya menghidupkan komunitas sastra dan memaparkan perkembangan sastra di Bali. Menurutnya, gairah berkesenian akan hidup jika didukung tiga hal: studi, kreasi, dan disiplin berorganisasi. Peran senior, salah satunya Umbu Landu Paranggi, dalam menghidupkan kegairahan sastra generasi muda sangat besar. Beliau kerap berbagi ilmu dan menantang para juniornya untuk berkarya. Komunitas menjadi  wadah untuk berkumpul dan berbagi karya. Jika ada anggota yang tidak terlalu aktif berkarya, merekalah yang punya peran untuk menjalankan organisasi dengan aktif mengadakan acara-acara kesenian.

Pada sesi Perempuan dan Puisi ini, Purnama menunjukan dokumentasi dari karya foto seorang dokter asal Jerman, Gregor Krause. Foto-foto yang menunjukkan citra perempuan Bali pada masa lalu yang berpengaruh besar pada  pariwisata Bali kemudian hari. Dengan menunjukkan foto-foto tersebut, Purnama mengingatkan pentingnya dokumentasi. Mungkin tidak penting untuk saat ini, tapi bisa jadi berpengaruh dan menjadi rujukan generasi di masa yang akan datang.

Beberapa sesi diskusi dengan tema berbeda digelar panitia PLB 2014. Tempat diskusi selalu penuh dan tidak sepi dari berbagai pertanyaan audien.  Diskusi mengenai proses kreatif diisi oleh M. Aan Mansyur, penyair, dan Maya Lestari GF, penulis Sumbar. Pada awal kepenulisannya, Maya aktif menulis puisi dan cerpen, namun belakangan Maya lebih produktif menulis novel. Novel terbaru yang sudah terbit Kupu-Kupu Fort de Kock adalah novel silat. Diilhami dari kesukaannya membaca cerita dan komik silat waktu kecil, Maya berpikir inilah saatnya seorang penulis perempuan menuliskan cerita silat. Maya, ibu dari tiga anak yang mengasuh sendiri putri-putrinya, merasa kesibukan sebagai ibu rumah tangga bukan alasan untuk berhenti berkarya. Baginya, itu hanya masalah manajemen waktu. Menulis dianggapnya sebagai bentuk istirahatnya dari kegiatan lain, dan memprioritaskan untuk selalu menyisihkan waktu menulis di waktu malam ketika anak-anaknya tidur.

Berbeda dengan kebanyakan orang lain yang mengaku menulis adalah hal yang menyenangkan, Aan Mansyur menganggap menulis adalah sesuatu yang menyakitkan. Namun, hal lain yang menyenangkan baginya adalah ketika sebuah tulisan rampung. Maka, untuk terbebas dari hal yang tidak menyenangkan dan merasa bahagia, tidak ada jalan lain selain menyelesaikan sebuah tulisan. Puisi-puisi Aan tidak mengandung kata-kata yang rumit, berkalimat sederhana. Itu karena pembaca pertama setiap puisinya adalah ibunya. Maka, Aan selalu berusaha membuat kata-kata yang sederhana untuk dimengerti seorang perempuan yang tidak berpendidikan tinggi. Puisi-puisi Aan dipengaruhi oleh cara orang Bugis melihat ruang dan waktu. Puisinya adalah rumah bereksterior sederhana, dengan ruang-ruang di dalamnya. Aan selalu berusaha membuat puisi dengan lapisan-lapisan, puisi-puisi cinta dengan sisipan kritik sosial atau sebaliknya.

Sesi diskusi terakhir PLB diisi oleh Nirwan Dewanto. Menariknya, Nirwan memaparkan telaah sastra melalui makalah berjudul Geologi. Sebagai seorang sarjana lulusan ITB di bidang Geologi, Nirwan ingin menunjukkan bahwa sastra bisa dilihat dari cara pandang ilmu lain. Menurutnya, “kekayaan warna lokal” itu hanya seperti rembasan minyak bumi, sementara cadangan kreativitasnya—cadangan minyak bumi metaforisnya—ternyata berada di bawah permukaan yang sama sekali tak mengandung rembasan itu….Demikianlah, “warisan Jawa”, “warisan Minang”, atau warisan apa saja, akan menemukan cadangan imajinasi yang melimpah dan terbarukan di luar geografi  yang telanjur dilukis oleh para pendahulu kita. Nirwan ingin mengajak kaum muda untuk terus menggali cadangan kreativitas tersebut.

Padang Literary Biennale yang berlangsung tiga hari hingga 21 September 2014 ditutup oleh pergelaran seni di Ladang Tari Nan Jombang, sebuah padepokan seni milik penari Minang yang sudah go international, Ery Mefri. Pembacaan puisi; teater yang dipadu seni silat dan iringan khas musik Minang; musikalisasi puisi; ditampilkan oleh beberapa komunitas dan seniman Sumatera Barat hingga menjelang tengah malam.

Padang Literary Biennale, sebuah upaya kaum muda pecinta sastra untuk mengingatkan kembali publik Indonesia bahwa di ranah Minang adalah tempat kelahiran banyak seniman berpengaruh di masa lalu juga banyak seniman-seniman muda yang semangat berkarya. Sebuah upaya untuk menghapus “kabut asap” yang dikepulkan kaum birokrat Sumatera Barat saat ini dan menciptakan cakrawala seni yang indah di ranah Minang.