Politik Identitas dan Ambivalensi “Dalam Lipatan Kain”

Politik Identitas dan Ambivalensi “Dalam Lipatan Kain”
Oleh: Fariq Alfaruqi

Pendirian Balai Pustaka pada tahun 1908, lembaga buatan Belanda yang memberi pemisahan antara sastra yang bermutu (menggunakan bahasa Melayu tinggi) dengan bacaan-bacaan liar (menggunakan bahasa Melayu rendah); Kemudian, Berdirinya majalah Poedjangga Baroe sebagai anak ideologis dari Balai Pustaka, yang menjadi rujukan utama dalam mengkonstruksi sejarah sastra Indonesia; Atau, Masuknya arus pemikiran baru ke Indonesia yang ramai-ramai menolak modernisme dan sebagai bagian dari usaha perlawanan terhadap praktik-praktik represif pemerintahan Orba. Adalah periode-periode penting dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari praktik kolonialisasi Belanda selama kurang lebih 350 tahun di Nusantara

Dengan menggunakan konsep mimikri yang dikemukakan Homi K Bhaba, bisa dilihat, bagaimana berdirinya lembaga Balai Pustaka dan eksisnya majalah Poedjangga Baroe, sebagai usaha-usaha menyejajarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah, dengan Belanda sebagai bangsa penjajah. Usaha-usaha sastrawan dan kaum intelektual Indonesia yang berada dalam ‘lokasi kebudayaan’ yang serba pasca untuk memposisikan diri keluar dari tatanan budaya lama namun dengan tetap mempertahankan identitas Indonesia; Di satu sisi ingin keluar dari kekuatan hagemonik kolonial, namun di satu sisi tetap terikat dan memang terbentuk oleh kebudayaan tersebut. Sementara untuk poin ketiga, masuknya arus pemikiran baru ke Indonesia tersebut dipengaruhi, terutama oleh teori Edward Said (Orientalism), yang membongkar hagemoni kolonial (barat) terhadap penjajah (timur) dan praktik-praktiknya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Maka kondisi masyarakat sastra Indonesia hari ini juga tidak terlepas dari suatu keadaan yang disebut pascakolonial. Termasuk karya-karya yang muncul belakangan, atau yang biasa disebut dengan sastra mutakhir. Ania Loomba menyatakan, secara umum pascakolonial adalah sindrom kolonial, yang bentuknya sangat beragam dan barangkali tak terelakkan bagi mereka yang dunianya telah ditandai oleh praktik kolonialisme. Konsep ini di satu pihak dapat berarti era atau zaman, di pihak lain juga dapat berarti teori. Sebagai teori, pascakolonialise dibangun atas dasar peristiwa sejarah terdahulu, dalam kasus Indonesia, berarti pengalaman pahit bangsa Indonesia selama kolonialisme Belanda.

Melalui cara pandang ini saya akan coba membaca puisi-puisi Esha Tegar Putra yang terhimpun dalam buku kumpulan puisi Dalam Lipatan Kain (Motion Publishing, 2015). Melihat bagaimana sebuah diskursus yang hierarkis oposisional dibentuk (konstruksi lembaga-lembaga model kolonial) tersebut dilanggar dalam sebuah teks sastra mutakhir. Atau malah antara yang opisisional dengan yang terpecah, yang pusat dengan yang pinggir, atau yang barat dengan yang timur, justru tumpang tindih, membentuk suatu bentuk yang ambivalen

Lokalitas dan Politik Identitas.

Pembacaan pada tataran heuristik menunjukkan adanya beberapa kecendrungan bentuk yang khas dalam puisi-puisi Dalam Lipatan Kain ini. Pertama, penggunaan diksi seperti sangsai, sirah, pagu, mengupih, gadang, pulun, jilah, berdengkang, tuba,kerambil, dan lain sebagainya. Diksi-diksi tersebut berasal dari bahasa sehari-hari masyarakat Minangkabau, ranah kebudayaan di mana Esha Tegar Putra tumbuh dan berproses sebagai penyair. Yang menjadi pertanyaan awal adalah, kenapa diksi-diksi Minang mesti dimunculkan, padahal, jika dilihat dalam KBBI, akan ditemukan padanan kata dari diksi-diksi tersebut yang bisa mewakili makna secara semantis dan lebih universal. Seperti, sirah (merah), gadang (besar), pulun (gulung), jilah (putih bersih), berdengkang (panas menyengat), beberapa diksi lain justru merupakan bahasa minang yang di-Indonesia-kan secara serampangan, mengupih yang berasal dari maupiah, berdengkang dari badangkang, dan kerambil dari karambia.

Kedua, pola kalimat yang digunakan untuk membangun narasi dalam puisi-puisi tersebut, secara sintaksis juga menggunakan pola bertutur masyarakat Minangkabau, yang cendrung meletakkan subjek di tengah, bukan di awal kalimat. Contohnya, “…..ke arah hari lalu aku berjalan” (Ke Arah Hari Lalu), “Dari pitalah aku turun” (Kereta Singkarak). Ketiga, penyebutan nama-nama daerah yang secara geografis berada dalam daerah kultural Minangkabau. Seperti, “Kecuali angin berkisar tak sudah-sudah dari arah Pauh//deru batu terseret aliran deras batang Kuranji” (Angin dari Arah Pauh), “Ke pasar Aiaangek//jantung pisang itu hendak dibeli.//Dan aku jalan lagi//menurun dari Pandaisikek…” (Membeli Jantung Pisang).

Pemakaian diksi-diksi Minang dan usaha meng-Indonesia-kan beberapa diksi Minang secara serampangan dalam puisi-puisi Dalam Lipatan Kain akan menggiring kita pada pertanyaan, apa tendensi penyair ketika mengambil pilihan tersebut. Pertanyaan ini juga berlaku untuk kecendrungan yang kedua, mengadopsi cara bertutur masyarakat Minang ke dalam bentuk puisi. Melalui dua usaha ini, pembacaan awal yang bisa dikemukakan adalah, Esha berusaha membangun puisinya dengan piranti-piranti puitik yang bersumber dari sesuatu yang hidup, bergerak, dan mengalami perubahan dalam masyarakat di sekelilingnya. Hal ini juga dipertegas dari pilihan-pilihan tema yang diambil. Pada bagian awal puisi-puisi yang diikat dalam subjudul “Rumah Di Atas Gelombang” misalnya, persoalan-persoalan keluarga dan remeh-temehnya, seperti, berpisah sehari dengan istri (Ke Arah Hari Lalu), atau nyanyian menidurkan anak (Dendang Kapal Kandas), bisa juga istri yang sedang sakit (Di Tuba Kabut Asap), serta menunggu kelahiran seorang anak (Kelahiran Dendang). Sedangkan pada puisi-puisi subjudul “Kota Dalam Retakan Tempurung”, kota (terutama Padang), tempat penyair melanglang mencari-cari jalan kepenyairannya, dihadirkan beserta segala persoalan, kenangan, dan harapan yang berebut tempat di dalamnya, menjadi pilihan tematik penyair.

Dalam kerangka pascakolonial, saya melihat bahwa lokalitas yang dihadirkan Esha Tegar Putra dalam puisi-puisinya yang terhimpun dalam buku Dalam Lipatan Kain ini merupakan bagian dari wacana tandingan terhadap hagemoni kolonial, yang kemudian praktik-praktiknya dilanggengkan oleh pemerintahan represif Orde Baru, terutama dalam bidang bahasa dan sastra. Jika pada masa kolonial, bahasa Melayu tinggi berposisi sebagai dominan sementara bahasa Melayu rendah termarjinalkan. Maka pada masa pascakolonial, bahasa Indonesia—yang berasal dari bahasa Melayu tinggi yang mengambil posisi superior, sementara bahasa daerah yang inferior. Dengan menggunakan lokalitas sebagai bangunan utama puisi-puisinya yang dalam oposisional hierarkis kolonial justru berada pada posisi yang inferior, marjinal, pinggir, atau daerah ia telah ikut dalam diskursus yang berusaha menerobos garis demarkasi buatan kolonial. Secara lebih spesifik, misalnya, usaha meng-Indonesia-kan diksi Minang secara serampangan, adalah bentuk peniruan yang bertujuan untuk mengolok-olok bahasa Indonesia, yang dalam pengertian Homi K Bhaba sebagai mockery. Hal ini didukung oleh fakta sosiolinguistik yang terjadi dalam masyarakat Minangkabau, dimana ketika menggunakan Bahasa Indonesia dengan dialek Minang kerap mendapat celaan oleh, baik itu masyarakat pusat maupun oleh masyarakat Minang itu sendiri.

Sementara, kecendrungan ketiga, yaitu, bagaimana kehadiran nama-nama tempat dalam kumpulan puisi Dalam Lipatan Kain sebagai usaha untuk membangun ruang yang bersifat lokal, juga merupakan wacana tandingan terhadap wacana hagemoni kolonial. Kali ini wacana kolonial hadir dalam bentuk karya-karya sastra barat yang menggambarkan dan sekaligus menyatakan bagaimana superiornya bangsa Eropa, yang kemudian diterjemahkan dan berpengaruh kuat pada novel-novel Indonesia pada awal-awal abad 20. Contoh karya-karya tersebut, di antaranya adalah, Monte Cristo. Novel ini adalah panorama aneka ruang yang ada di dalamnya. Ruang di dalam novel ini membentang dari belahan bumi barat ke sebelah timur, dari rumah orang yang sangat kaya dan mewah sampai ke rumah seorang nelayan yang miskin, dari istana raja dan rumah-rumah bangsawan yang terhormat sampai dengan sarang para penjahat. Keanekaan ruang-ruang partikular yang panoramik tersebut berimplikasi pada penegasan kembali gagasan mengenai imanensi narator dalam struktur naratif. Karena narator ada di mana-mana, semakin beraneka ruang yang ia masuki, semakin besar daya imenensinya, semakin besar pula kekuatan dan kekuasaannya, sebagaimana yang direpresentasikan oleh tokoh Monte Cristo. Sebaliknya, puisi-puisi Esha Tegar Putra justru memberi penegasan yang sebaliknya. Dengan menghadirkan ruang yang ‘kecil namun dikuasai dengan baik’ dalam bangunan-bangunan puisinya, ia justru menegaskan posisi yang bersebrangan dengan novel kolonial tersebut.

Lokalitas dan Ambivalensi

Ambivalensi adalah kondisi niscaya yang dihadapi oleh masyarakat negara bekas jajahan. Proses pencarian identitas yang dilakukan oleh masyarakat terjajah dihadapkan pada persoalan ketidakmungkinan untuk melepaskan diri secara penuh dari situasi pascakolonial. Homi K Bhaba menyebutnya sebagai ‘lokasi kebudayaan’ yang bersifat serba pasca, sebuah ‘wilayah antara’ yang di satu pihak ingin bergerak keluar dari kekinian masyarakat dan kebudayaan kolonial, dan dilain pihak tetap terikat pada dan berada dalam lingkungan permasalahan kekinian itu.

Maka, gerak politik identitas ke arah lokalitas, yang ada dalam kumpulan puisi Esha Tegar Putra, adalah contoh dari kondisi yang ambivalen tersebut. Di satu sisi, ia berusaha merusak kodifikasi dan standarisasi bahasa Indonesia, dengan memaksakan diksi-diksi Minang ke dalamnya, namun di sisi lain puisi-puisi tersebut masih menggunakan konstruksi bahasa Indonesia secara umum agar ia bisa dipahami oleh masyarakat di luar kultur Minang. Jika dilihat dari pola puisi yang kerap menggunakan paradoks, ironis, lebih sering sentimentil untuk menyelesaikan narasi yang dibangunnya, maka hal tersebut bisa diposisikan sebagai penegasan akan kondisi yang ambivalen tersebut, contohnya, “kita tertidur untuk terbenam di hari depan//kita berjalan untuk tearntuk pada kenangan.” ( Ke Arah Hari Lalu), Mengapung dan membenam. Hari lalu selalu bermain di atasnya//di antara hujan lebat dan panas berdengkang, di antara//air turun dan air naik…” (Menjauh Dari Kota). Pada kutipan pertama, bisa dilihat bagaimana jalan, dalam konteks pascakolonial merupakan pencarian, selalu menemukan benturan, apakah berdiam kemudian terbenam di hari depan, atau berjalan kemudian terantuk pada kenangan. Sedangkan pada kutipan kedua, akhirnya, posisi yang diambil adalah, berada di antara yang mengapung dan yang membenam, di antara hujan lebat dan panas berdengkang, atau di antara air turun dan air naik.

*)Tulisan ini didedahkan dalam seminar Pekan Kritik Sastra 2, 15-04-2015, dalam bentuk makalah.

*)Mahasiswa Sastra Indonesia Unand

Membangkitkan Chairil Anwar di Hari Puisi

Membangkitkan Chairil Anwar di Hari Puisi

Ada kemeriahan yang agak lain pada hari Jumat 26 Juli 2013 lalu, sebuah helatan atau perayaan lebih tepatnya di Kedai Lentera Jakarta. Acara dilaksanakan sebagai penghormatan pada salah seorang penyair besar Indonesia, Chairil Anwar. Tanggal 26 Juli digagas sebagai Hari Puisi oleh Rida K. Liamsi seorang sastrawan dari Riau dideklarasikan pada 22 November 2012 oleh Sutardji Chalzoum Bachri di Pekanbaru. Didukung oleh tidak kurang dari 40 orang penyair dari pelbagai daerah di Indonesia.

1074023_669383836422791_67842909_o

26 Juli 2013 merupakan hari pertama perayaan Hari Puisi Indonesia, dan perayaan hari puisi di Kedai Lentera diusulkan oleh Andi Gunawan yang kemudian direspon Diki Umbara, Lukman Simbah, dan Ken Miryam yang segera dilontarkan ke sosial media. Di bawah purnama bulan yang melewati reranting pohon Kedai Lentera, perayaan hari puisi berlangsung khidmat dan panjang. Beberapa puisi Chairil mulai tahun 1942 hinga 1949 dibacakan oleh pengunjung yang ditunjuk Diki secara acak. Maka mulai dari Nisan hingga Derai-derai Cemara seolah membangkitkan kembali Chairil Anwar.

534805_669400166421158_1499898838_n

Tak hanya puisi karya Chairil, beberapa ada yang membacakan puisi karya lain seperti Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, WS Rendra, Acep Zamzam Noor, Sitok Srengenge, Afrizal Malna, serta puisi yang dibuat pengunjung perayaan. Menarik lainnya, tak hanya puisi yang berbahasa Indonesia saja yang dibaca karena ada juga yang membaca puisi berbahasa Inggris, Ambon, Arab, bahkan bahasa Urdu. Dengan fasih misalnya, Tiara Iraqhia membacakan Houdini Girls yang ia tulis sendiri. Tidak hanya ditunjuk pembawa acara, beberapa pengunjung mengajukan diri untuk membacakan puisi. Dan yang hadir tak hanya dari Jakarta karena ada yang dari Bandung, Solo, Ambon, dan Magelang.
malam 5
Beberapa ada yang baru perama kali membacakan puisi di depan publik seperti Dewi Subrata yang membacakan Dengan Mirat, puisi Chairil Anwar yang ditulis pada 8 Januari 1946. Demikian juga dengan Rismadhani yang membacakan Aku Berada Kembali, puisi Chairil yang ditulis tahun 1949. Gugup katanya, namun dia bisa membacakannya dengan indah. Ada yang baru pertama baca puisi ada juga yang nampaknya sudah terbiasa, seperti Batara Respati yang menyempatkan hadir di hari puisi yang persiapannya tak panjang ini. Demikian juga Nurman Jaya yang membacakan puisi Sajak Putih, tanpa persiapan karena memang didaulat langsung oleh pembawa acara. Dengan suara yang khas Bhagavad Sambadha membacakan puisi yang ditulis Charil pada 30 November 1946, Kepada Kawan.

malam2
Tak hanya pembacaan puisi, Disa Tanos dan Kiki melantunkan musikalisasi puisi yang mereka ciptakan sendiri serta musikalisasi dari salah satu puisi karya yang lain. Dengan syahdu Kiki melantunkan Aubade salah satu puisi karya Agus Noor yang digubah menjadi musikalisasi yang manis.

malam 7
Selain lantunan lagu, perayaan hari puisi juga diselingi dengan diskusi yang tak kalah menarik. Diskusi tentang Chairil Anwar dan kepenyairannya dipandu oleh Lukman Simbah. Dengan lumayan terperinci Reza Syariati memaparkan bagaimana Chairil masa itu hidup sebagai bohemian hingga menjadi penyair yang sangat dikenal di Indonesia. Pendapat lain disampaikan oleh Rahung Nasution yang mengenal siapa Chairil dari apa yang dituturkan oleh penyair yang tak kalah terkenalnya yakni Sitor Situmorang. Sedangkan Mohammad Irfan Ramly dan Diki Umbara menyampaikan sisi lain kehidupan Chairil Anwar seperti kedekatan Chairil dengan Affandi juga HB Jassin serta siapa saja nama-nama yang ada pada puisi Chairil serta kehidupan rumah tangganya yang sangat pendek.
Di penghujung acara Ayi Noe membacakan salah satu puisi karya Chairil Anawar dengan memukau. Teatrikal dadakan dan spontan yang dia lakukan sangat menarik.

malam 6
Malam semakin larut, tak kurang dari 40-an yang hadir seolah enggan beranjak dari tempat. Hampir jam 12 malam acara baru ditutup. Namun demikian beberapa masih terlibat dalam diskusi kecil membincangkan tentang puisi hingga masalah sosial yang lagi hangat. Selamat mengenang Chairil Anwar, selamat Hari Puisi pertama di Indonesia.

Puisi “Kupu-kupu Kehujanan di Musim Ternak Babi”

MalamPuisi1
Malam Puisi ke dua di Kedai Lentera Jakarta

Seperti pada #malampuisi perdana di Jakarta, pada malam puisi kali ini juga ada menulis puisi secara estafet. Dan inilah puisinya:

“Kupu-kupu Kehujanan di Musim Ternak Babi”

Malam bukan sedang menangis
Dia cuma terlalu larut menjelma puisi
Mencurahkan apa yang selama beberapa waktu tertahan
Meluapkan segala yang kerapkali hanya tetap tersimpan

Maka pada siapa-siapa yang tengah menanti
Menghabiskan sepi, sesegera itulah
Segala menderas serupa air bah

Tapi kenapa?
Kenapa ia begitu terlarut dengan syair yang mengiris hati
Dan isyarat-isyarat yang tak menentu dengan tetesannya
Bahkan langit tak mengerti dengan isyarat
Dalam kata yang terus keluar serupa tsunami

Kupu-kupu gelisah, dalam rintik hujan
Hujan malam ini pada negerinya yang asing
Larut dalam pekat kopi pahit bersahut tikus bercericit
Kalut dalam pekat keriput bersambut tubuh beringsut
Salut bara di bawah muara kelu kata

Jeruk nipis tipis di antara riuh angin yang menyinyis
Hening bening menyibak hati yang menyingsing
Dan rebahlah kita dalam puisi yang saling mengisi
Dada-dada kita yang berlubang terlalu banyak
berkembang biak dalam sejarah musim ternak babi

Tumbuh sebagai luka meradang
Meronta menjelma puisi-puisi panjang
Tentang hening, geming
Sunyi menangis kesepian

Diam-diam aku berdoa di dalam sepi
Menghitung duka di dalam lara lalu mengamini
Aku percaya selalu ada bahagia
Di balik hati-hati yang terluka

Dan aku percaya pada masa
Yang berdamai pada lupa akan luka,
Menutupnya dengan suka-suka.

Selamatkan kata, Selamatkan kita.

Kedai Lentera, 13 Juli 2013

Malam Puisi di Kedai Lentera

MalamPuisi

Kedai Lentera, 15 Juni 2013

Malam Puisi merupakan acara yang mengundang siapapun para pecinta puisi, atau yang suka menulis puisi, untuk berkumpul menikmati puisi. Pertama kali diadakan di Kopi Kultur Bali pada 27 April 2013. Digagas oleh Putu Nugraha Aditya, Bentara Bumi, Kirana Larasati, dan Ulan Octavia. Acara mendapat respon positif dan selanjutnya dilaksanakan di pelbagai kota lain, Jogjakarta dan kini Jakarta.

Berlokasi di Kedai Lentera, Malam Puisi diselenggarakan pada Sabtu 17 Juni 2013 dipandu oleh Lukman Simbah. Pembacaan puisi pertama oleh Barikatul Hikmah, dilanjut oleh Wulan Martina, Iman Permana, Andi K. Wahab, Ika Fitriana, Andi Fachri, Bhagavad Sambhada, Liana, Ivone, Dhyta Caturani, dan Diki Umbara. Tak hanya pembacaan puisi, Malam Puisi perdana ini juga ada musikalisasi puisi oleh Sasina UI. Menariknya lagi di ujung acara setiap yang hadir diminta untuk menulis puisi berantai secara spontan. Dan inilah kolaborasi puisinya:

Ini malam tak ada lagi rumpang, padahal kita barangkali tak saling kenal
Tak saling kenal nama, namun jiwa? Mungkin dulu kita pernah bersama?
Kenapa rindu kita tidak kembali. Pada dua pasang kata yang bertemu di titik itu
Kita adalah jiwa-jiwa tanpa nama yang bersama karena rasa.

Ya, ada rindu yang mengalun malu-malu. Lalu, semakin menggebu, meminta waktu berhenti pada temu yang tak semu
Tak ada batas dari katamu, kataku. Kita berbicara tanpa tema. Wajah kita adalah suara. Suara kita adalah kata
Malam dan rembulan kini tak pelak merelakan. Dari kenang yang membuat benang rajutan dalam setiap kata menjadi bendera cinta.
Ketika hujan sudah berganti malam dan kita bicara tentang malam yang kelam. Padahal sisa dingin dari hawa hujan msh menyimpan seulas senyuman.

Ketika semua orang gemar bercinta di dalam kamar, di atas ranjang, di pinggir pantai, di tenda kemah, di toilet umum
Kita selalu pikir itu biasa saja. Sebab kita gemar bercinta di balik layar, dengan jari-jari kita sendiri

Malam menelurkan puisi di dalam kepala. Telur itu menetas, lalu kepala mendikte bibir menyeruput kopi, mengisap rokok, dan melafalkan kata. Sang ibu malam berbangga dan menelurkan lagi rembulan di wajahnya
Aku asing di sini. Hanya ada bait-bait yang bertaut syahdu di malam sendu dengan syair yg menggebu, merdu
Duhai kekasih, aku ingin hilang dalam ramai, kekal di candu sepi, menjadi dekat paling erat, erat sekali.
Menjadi sunyi yang paling kau ingini dan kau hujani mimpi.

Mari kita bermimpi!

VIDEO: Dipukau Pulau di Landai Pantai


Dipukau Pulau di Landai Pantai
Toffan Ariefiadi

Engkau yang begitu kilau dipukau pulau

Sudah aku landaikan pantai di jantungmu
debarnya menghamburkan wangi asin ombak
ke butir bisu pasirmu, ke tegar ragu karangmu
tiada sanggup sejenak pun kau mengelak

Aku takkan mendebur di landai pantaimu

Sebab kau telah pukaukan pulau di dadaku
kilapnya menggaramkan luas ruasruas laut
mengubah tawar sabar jadi masin riakku
tiada mampu sedikit pun aku membantut